Ketika berbicara tentang pembelajaran, hal yang menjadi bahan penting adalah bagian penilaian. Apalagi jika kita berbicara tentang pentingnya pendidikan, penilaian pembelajaran menjadi bagian dari proses yang tak bisa diremehkan. Semestinya, tak terkecuali penilaian pada masa pandemi. Hal ini menjadi sebuah dilema. Setelah satu semester (dan hampir satu tahun) dunia pendidikan “memberikan nilai pemakluman“ kepada para peserta didik mengingat tidak efektifnya masa belajar mengajar karena situasi yang tidak memungkinkan. Namun, akankah penilaian pada semester ini juga sekadar diisi? Adakah solusi?
Pada awal masa, penulis pernah menyoal bagaimana pembelajaran di masa pandemi, masa kenormalan baru, dan menyatakan rasa optimisme yang dalam. Bahwa, menghadapi wabah yang luar biasa ini, kembali pada kebijakan sekolah dengan menjunjung kebiasaan baik. Pada intinya, pada masa pandemi pendidikan tetap menjadi skala prioritas. Pembelajaran yang sedang berlangsung tetap mengutamakan nilai-nilai pendidikan, kegiatan pembelajaran tetap dilakukan secara kreatif, menjaga dan membangkitkan semangat belajar di masa COVID-19, serta mendorong pelibatan dan partisipasi publik, dengan mematuhi protokol kesehatan mencegah penyebaran.
Hal ini diharapkan lebih pada penguatan sikap/perilaku, dan pembelajaran bencana dapat menguatkan karakter peserta didik. Masa inilah wacana kenormalan baru beserta kebijakan baru, harus dijalankan dengan baik dan disiplin.
Akan tetapi, meskipun kegiatan pembelajaran telah mengacu dan berpedoman dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020--tentang tidak adanya tuntutan ketuntaskan kurikulum, serta kemudahan yang diberikan-- masih saja terjadi dilema di lapangan. Ternyata, banyak peserta didik yang tidak peduli alias abai terhadap proses pembelajaran di masa pandemi, dan membuat pendidik tidak dapat memberikan penilaian yang berharga dan bermakna. Bagaimana bisa diberikan penilaian alih-alih kelulusan dalam belajar jika masih terdapat peserta didik yang tidak pernah /tanggap dalam memberikan umpan balik yang baik. Bahkan terkadang mangkir dari panggilan(?)
Selama ini, demi menjaga kesehatan dan kegiatan pendidikan, upaya yang dilakukan pihak sekolah telah disesuaikan dengan daya formal dan informal. Bila segala kebijakan dalam dunia pendidikan, dalam hal ini sekolah (guru), telah dijalankan oleh peserta didik dengan baik tentu tidak akan menimbulkan konflik atau buruk sangka lagi. Antara sekolah, siswa, dan orang tua, telah memahami prosedur dan kebijakan yang diterapkan sekolah dalam hal pembelajaran. Jika ternyata pada kenyataannya masih ada peserta didik tidak kooperatif terhadap kebijakan masa pandemi, sekolah bisa saja mengambil kebijakan kembali dengan asas keadilan bagi siswa yang terus aktif dan semangat dalam belajar.
Pada kegiatan belajar mengajar, bukankah telah beragam metode dan cara dilakukan oleh pendidik agar pandangan para anak didiknya tetap terjaga? Usaha para pendidik dalam memenuhi tuntutan sistem mengajar yang dianjurkan atau disarankan oleh para ahli cukup banyak. Para pendidik pun seakan mendapat mainan baru dalam mengolah bahan pembelajarannya. Materi yang tertuang dalam kurikulum disesuaikan dengan masa darurat, dan melalui video conferencen seperti zoom meeting, google meet, cisco webex, teams, atau aplikasi lainnya dapat memberikan sentuhan kepada peserta didik.
Namun, ibarat pepatah lama, berapa lama keasyikan yang memakan waktu dan biaya yang besar akan bertahan? Sebagian guru dan peserta didik merasa lelah, dan ketiadaan kemampuan dana, atau “kehabisan rasa senang” beraplikasi. Mungkin fenomena ini yang membuat peserta didik jadi tak terawasi.
Sementara itu, dari sudut mata pelajaran tersendiri dalam hal ini mata pelajaran Bahasa Indonesia, evaluasi/penilaian dengan cara daring, tidak dapat mengukur keterampilan berbahasa dengan baik. Walau dengan dalih “tidak mengukur ketuntasan kurikulum”. Kriteria ketuntasan kompetensi dasar yang dimaksud dalam pembelajaran bahasa adalah bidang yang memerlukan ranah kognitif, afektif dan spikomotorik sekaligus. Kemampuan peserta didik yang terhimpun dalam keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis tidak teramati dengan semestinya. Maka, sistem penilaian akan sedikit mengalami kendala walau pembelajaran telah diberikan kemudahan,yaitu tidak menuntut ketuntasan.
Pada kenyataannya, pembelajaran bahasa memerlukan daya berpikir yang nyata. Daya pikir juga merupakan ciri khas yang mendasar dari seorang manusia. Berpikir juga suatu bentuk keaktivan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan (Purwanto, 1980). Pada kegiatan pembelajaran proses berpikir secara autentik akan diketahui melalui interaksi individu dengan individu maupun berkelompok. Kegiatan ini bisa dipahami jika terjadi komunikasi tatap muka.
Dalam belajar bahasa, ciri utama dari berpikir adanya abstraksi, yaitu tanggapan terhadap sesuatu rangsangan. Seperti pertanyaan, ucapan yang berkali-kali, dan sebagainya. Belum lagi perbaikan terhadap keterampilan berbicara dan menulis. Maka pada sistem pembelajaran pada masa ini akan sangat mengurangi kadar keberhasilan pencapaian, alih-alih kualitas berbahasa peserta didik. Pengumpulan tugas secara paper/tulisan saja masih dilakukan setengah hati, apalagi dengan virtual atau secara daring lainnya yang akan membebani ekonomi orang tua peserta didik, waktu pendidik, serta kesehatan pendidik, mengingat guru harus berlama-lama terpapar radiasi layar laptop atau gawai. Hal ini tentu akan sangat berbeda jika pembelajaran bahasa dilakukan secara tatap muka. Para guru/pendidik akan mampu memberikan pengamatan terhadap kognitif, psikomotorik, dan afektif peserta didik secara adil dan sehat.
Seiring dengan perkembangan zaman dan fenomena masa ini, pembelajaran bahasa pada jenjang sekolah menengah pun harus terprogram dengan baik. Reorientasi pembelajaran bahasa Indonesia saat ini ditujukan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, kemampuan berteknologi, serta peninggian karakter.
Pencapaian keterampilan berbahasa yang dituntut memang tidak mungkin dicapai dalam waktu yang singkat. Perlu metode dan waktu yang efektif dengan penambahan hiasan dalam pembelajaran bahasa agar peserta didik semangat dan termotivasi untuk terampil. Adapun hiasan dalam pembelajaran bahasa yang dimaksud adalah dalam belajar bahasa perlu memperhatikan konten akademik, multigaya belajar, keterampilan berpikir, dan mutikompetensi. Dan jika capaian yang diharapkan masih belum memenuhi target pada masa pembelajaran efektif, dapat dibayangkan bagaimana penerapan pada masa ini?
Memang diakui, bahwa teknologi telah menjadi solusi utama kehidupan manusia, tapi satu hal yang utama adalah bahwa manusialah yang menciptakan teknologi maka yang mengatur kehidupan adalah manusia, bukan teknologi. Maka untuk dapat berkomunikasi dengan baik, dalam pembelajaran bahasa memerlukan daya lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang dengan keinginan belajar bahasa yang kuat dapat mempengaruhi seseorang untuk mengikuti karena didasarkan pada teori meniru/kecenderungan meniru, berpengaruh pula dalam belajar. Hal ini menunjukkan besarnya daya tarik lingkungan (belajar tatap muka) terhadap sikap seseorang. Orang bijak mengatakan “pertama-tama orang belajar dengan meniru.” Karena belajar bahasa terjadi dalam alam pikiran pembelajar.
Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah masih menunggu masa yang tepat agar keterampilan peserta didik dapat didayakan dengan baik. Karena peserta didik adalah individu yang memiliki jiwa. Tiap individu merupakan pribadi yang unik. Ada perbedaan antara individu yang satu dengan yang lain, misalnya: bakat, minat, intelegensia, dan lain-lain. Karena sifat ini maka belajar diusahakan harus mengarah pada usaha yang dapat melayani perbedaan perseorangan, agar tiap individu dapat merealisasikan dirinya sesuai dengan individualitasnya.
Tiap individu memiliki bermacam segi kejiwaan, dipengaruhi pikiran, perasaan dan kemauan. Pendidik harus berusaha mengembangkan semua segi kepribadian secara harmonis dan integrati, pembelajaranpun dapat terjadi dalam banyak arah dan dimensi. Selain itu, tiap-tiap perkembangan individu menghadapi tugas perkembangan tertentu, dan pendidikan harus membantu anak dalam menyelesaikan tugas perkembangan tersebut. Untuk itu proses komunikasi memerlukan interaksi secaralangsung dan alami, tidak hanya simulasi dalam aplikasi.
