Penyelenggaraan pertemuan G20 Development Working Group (DWG) Indonesia 2022 sudah di depan mata. Pulau Belitung mendapatkan kepercayaan untuk menjadi salah satu lokasi pertemuan kegiatan ini pada tanggal 7 sampai 9 September. Selain menjadi sebuah kehormatan besar, pemilihan pulau dengan julukan Negeri Laskar Pelangi sebagai tempat pertemuan tingkat Menteri Pembangunan ini juga menjadi kesempatan emas bagi Pulau Belitung untuk unjuk gigi di hadapan dunia. Bagaimana tidak? G20 sendiri merupakan forum kerja sama internasional dengan 20 negara anggota yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU).
Forum G20 menjadi penting bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk Provinsi Bangka Belitung, khususnya Pulau Belitung. Forum G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Seluruh negara tersebut merupakan negara-negara yang masuk dalam 20 besar ekonomi dunia. Hal ini bisa terindikasi dari PDB setiap anggota G20. Melansir situs resmi g20.org, G20 melibatkan negara berpenghasilan menengah dan punya pengaruh terhadap ekonomi dunia yang sistemik. Kesempatan yang kita peroleh untuk menjadi tuan rumah pertemuan ini tentu saja akan memberikan dampak positif.
Ajang G20 bisa menjelma sebagai panggung megah bagi masyarakat Belitung untuk menampilkan potensi yang dimiliki. Masyarakat Belitung bisa menunjukkan jati dirinya untuk siap bersaing dan berkompetisi secara global. Selain menunjukkan pesona lewat keindahan alamnya, Belitung juga dapat menunjukkan keramahan masyarakatnya sebagai daya tarik pariwisata sebelum, saat, dan pasca G20 diselenggarakan.
Momen sebagai tuan rumah juga bisa dimanfaatkan Pulau Belitung untuk dapat bergerak lebih cepat serta bangkit lebih kuat. Sama halnya seperti tagline dari G20 Indonesia 2022 yaitu “Recover Together, Recover Stronger”. Tidak hanya sebagai tagline, pelaksanaan G20 di Belitung juga diharapkan mampu meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat setempat pasca Covid-19. Sebagai daerah wisata, pandemi telah mengakibatkan kerugian bagi pelaku usaha dan masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran G20 di Belitung bagai angin segar yang membawa peluang dapat bangkit dan berdaya.
Dampak positif pertemuan G20 tidak hanya berhenti pada sektor ekonomi dan pariwisata semata, tetapi juga sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menyatakan terdapat empat agenda prioritas yang menjadi pembahasan di forum G20 yang berakar dari konsep Merdeka Belajar. Keempat agenda tersebut adalah pembahasan mengenai: 1) Pendidikan berkualitas untuk semua, 2) Teknologi digital dalam pendidikan, 3) Solidaritas dan kemitraan, dan 4) Masa depan dunia kerja pasca pandemi Covid-19. Seluruh agenda tersebut merupakan pilar-pilar penting arah dunia pendidikan ke depan. Secara umum dapat kita lihat bahwa pertemuan G20 dapat membawa perubahan positif bagi pendidikan Indonesia. Namun demikian, apa sebenarnya dampak positif yang akan didapatkan Pulau Belitung sebagai tuan rumah secara khusus?
Dalam menyambut G20, peserta didik dapat menjadi representasi praktik bagi dunia pendidikan Belitung. Sebut saja praktik baik di dunia persekolahan yang diajarkan dan ditanamkan kepada setiap pelajar seperti senyum, sapa, salam, sopan, dan santun (5S) yang harus ditunjukkan oleh peserta didik dalam menyambut delegasi G20. Segala macam keterampilan dan pengetahuan yang diajarkan oleh sekolah ataupun lembaga pendidikan dapat ditunjukkan disini. Program kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri juga dapat ditampilkan lewat ajang ini. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat mengambil bagian penting untuk menunjukkan eksistensinya. Sekolah Menengah Atas (SMA) lewat program kewirausahaan dapat pula menjadikan event G20 ini dengan memamerkan sekaligus menjual produk-produk unggulan sekolah seperti kerajinan, anyaman, demo makanan, dan minuman khas lokal serta souvernir yang menarik kepada tamu atau wisatawan yang datang.
Bukan hanya sebagai pelengkap acara ceremonial, banyak sekali pengalaman belajar yang dapat diambil oleh peserta didik maupun dunia pendidikan dari gelaran G20. Misalnya saja, peserta didik diharapkan dapat belajar mengenai pendidikan multikultural. Lewat pendidikan multikultural peserta didik dapat langsung mempraktikkan aktivitas menghormati dan menghargai setiap keragaman serta perbedaan sebagai sebuah simpul kekuatan juga persaudaraan dengan didasarkan pada prinsip- prinsip persamaan, saling menghormati dan menerima, serta memahami adanya komitmen moral untuk sebuah keadilan sosial dari perhelatan G20 tersebut.
Perhelatan G20 juga memberikan peluang bagi dunia pendidikan Belitung untuk menunjukkan beberapa point penting dari Profil Pelajar Pancasila. Sebut saja berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, dan kreatif. Berkebhinekaan global dalam hal ini dapat ditunjukkan oleh setiap peserta didik dalam menghargai kebiasaan serta budaya dari berbagai macam negara yang berbeda.Peserta didik diharapkan tetap mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, tetapi juga tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain. Peserta didik juga didambakan bisa menunjukkan sikap menghargai dan toleransi terhadap wisatawan, menggali dan mengangkat keunikan budaya lokal, serta mempelajari nilai nilai kearifan lokal sebagai upaya promosi budaya daerah.
Keuntungan lain dari gelaran G20 adalah pembelajaran langsung tentang semangat gotong royong. Semangat gotong royong ini menjadi dasar penguatan solidaritas moral untuk kepentingan semua. Perwujudannya dapat dilihat dengan bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan destinasi wisata, menghindari sikap vandalisme, menerapkan sikap yang tidak mengganggu kenyamanan peserta G20, bersikap sebagai tuan rumah yang baik dan rela membantu wisatawan, selalu menjaga keindahan dan keaslian objek wisata, serta bersikap ramah tamah.
Profil lain yang dapat ditunjukkan oleh peserta didik adalah mandiri dan kreatif. Kemandirian setiap peserta didik dapat terlihat dari bagaimana ia bertanggung jawab atas segala hal yang dipercayakan padanya, memiliki sikap pengendalian diri yang baik, serta mempunyai sikap inisiatif dan keberanian untuk melakukan terobosan baru. Misalnya saja, ketika peserta didik diminta untuk menjadi peserta audiensi ataupun hal lainnya pada saat perhelatan G20, ia akan bertanggung jawab melaksanakan kepercayaan tersebut dengan sungguh-sungguh. Untuk kreatif sendiri dapat ditunjukkan oleh peserta didik dalam banyak hal. Sebut saja pameran produk hasil karya, aktif membuat konten di sosial media untuk promosi maupun membagikan informasi budaya, serta menjadikan media sosialsebagai media mengajak orang lain untuk mengenal lebih dekat G20. Dengan berbagai peluang dan kesempatan yang ada, perwujudan profil tersebut dapat jelas dilakukan ketika perhelatan G20 ini terlaksana nantinya.
Terlepas dari semua itu, kita semua tentu harus menjadi tuan rumah dan pendukung terdepan gelaran G20 ini. Hal ini karena momentum G20 sangat berharga bagi Indonesia dan Belitung, khususnya dalam membangkitkan kembali roda perekonomian akibat pandemi COVID-19. G20 juga menjadi wadah yang tepat untuk memperbaiki iklim ekonomi, sosial, dan pendidikan serta meningkatkan kepercayaan masyarakat dunia untuk bangkit bersama juga kuat bersama.Dunia pendidikan harus menjadikan momentum G20 untuk siap bersaing dan berdaya saing.
