Pendidikan dari waktu ke waktu terus melakukan inovasi sesuai dengan perkembangan peradaban dan perkembangan individu manusia. Hal inilah yang mendorong kemajuan yang pesat dalam bidang pendidikan. Perkembangan trend dunia pada abad ke-21 lebih berorientasi pada pengembangan potensi manusia dan tidak lagi memusatkan pada kemampuan individu dalam kemampuan teknik dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi alam. Pengembangan potensi SDM berkaitan dengan perkembangan inovasi teknologi, sehingga setiap individu yang terlibat dalam pendidikan harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan yang ada saat ini. Kegiatan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh inovasi tekonologi pendidikan.
Pembelajaran merupakan kegiatan yang banyak melibatkan keselarasan aktivitas siswa dan aktivitas guru. Harmonisasi aktivitas siswa dan guru diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Alternatif metode mengajar dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut. Guru dalam proses pembelajaran perlu menggunakan metode mengajar yang tepat dan bervariasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya. Tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan analisis kesesuaian antara tipe isi pelajaran dengan tipe kinerja (performansi).
Geografi merupakan pembelajaran yang menarik karena tidak hanya berbicara tentang manusia tetapi juga interaksi manusia dengan lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Cakupan yang dipelajari dalam geografi sangatlah luas, sehingga kurang efektif apabila siswa hanya diberikan materi-materi kemudian menghafal dan ulangan. Peningkatan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Geografi dapat dilakukan dengan membangun rasa ingin tahu siswa dan melibatkan siswa aktif di dalamnya. Penggalian keaktifan siswa dalam proses pembelajaran Geografi dapat dilakukan dengan penggunaan metode pembelajaran yang tepat.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif adalah make a match. Metode make a match digunakan dalam pembelajaran Geografi dengan materi litosfer. Karena metode ini menyenangkan, diyakini dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa, dan melibatkan siswa dalam setiap tahapan aktivitasnya. Metode pembelajaran make a match dilakukan dengan cara berkelompok setelah itu kemudian, berpasangan. Berkaitan dengan hal tersebut, metode ini diharapkan
dapat memudahkan siswa untuk memahami dan menerima materi yang disampaikan dan hasil yang diperoleh siswa juga meningkat.
Prinsip yang relevan dalam penciptaan lingkungan belajar bagi anak adalah pengembangan pengajaran yang menyediakan fasilitas bagi anak untuk bereksplorasi, berpikir, dan memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain (guru, teman-teman atau pihak lain). Kemampuan guru di dalam memanipulasi objek fisik menjadi objek berpikir anak, akan selalu dituntut dalam pengembangan pengajarannya. Metode make a match dapat menjembatani konsep abstrak menjadi nyata dalam pembelajaran siswa. Selain itu, metode make a match merupakan metode pembelajaran yang menyenangkan karena di dalamnya ada unsur permainan.
Rusman (2011: 223) menyebutkan bahwa teknik make a match (mencari pasangan) merupakan salah satu dari jenis model pembelajaraan kooperatif. Metode pembelajaran make a match atau yang dikenal dengan mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. Salah satu keunggulan dari metode pembelajaran ini adalah siswa secara berkelompok berpasangan sambil belajar mengenali konsep atau topik dalam suasana yang menggembirakan sehingga materi yang diajarkan lebih mudah di pahami dan diingat oleh siswa. Langkah-langkah metode pembelajaran make a match yang dikemukakan oleh Lorna Curran (1994) adalah sebagai berikut:
- Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban;
- Setiap siswa mendapat satu buah kartu;
- Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang;
- Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban);
- Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin;
- Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya;
- Demikian seterusnya;
- Kesimpulan/penutup.
Penerapan metode make a match dalam penelitian ini menggunakan visual sehingga kartu soal pertama berupa gambar, kartu soal yang kedua berupa jawaban dan kartu soal yang ketika berupa penjelasan dari jawaban. Pada setiap paket kartu soal di akhiri dengan diskusi. Menurut Supriyono (2012), metode make a match memiliki beberapa kelebihan, diantaranya sebagai berikut.
- Pembelajaran akan menjadi lebih menyenangkan dan siswa dapat didorong lebuh aktif;
- Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa;
- Cocok untuk pemberian tugas sederhana dan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan semua jenjang kelas.
Sementara, beberapa kekurangan atau kelemahan dari metode make a match yaitu sebagai berikut.
- Perlu manajemen yang kuat karena metode ini memungkinkan terjadi keributan di kelas;
- Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan;
- Terkadang waktu terbuang karena siswa terlalu banyak bermain-main dalam proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan metode make a match tidak semua peserta didik baik yang berperan sebagai pemegang kartu pertanyaan, pemegang kartu jawaban, maupun penilai, mengetahui dan memahami secara pasti apakah betul kartu pertanyaan jawaban yang mereka pasangkan sudah cocok. Demikian halnya juga peserta didik kelompok penilai. Mereka juga belum mengetahui pasti apakah penilaian mereka benar atas pasangan pertanyaan-jawaban. Dalam menjembatani kesesuaian pertanyaan dengan jawaban siswa guru memfasilitasi diskusi untuk memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik mengonfirmasikan hal-hal yang telah mereka lakukan, yaitu memasangkan pertanyaan jawaban dan melaksanakan penilaian.
Metode mengajar bukan satu-satunya inovasi dalam pembelajaran. Hal yang tak kalah penting dari metode pembelajaran adalah media pembelajaran yang merupakan unsur penting dalam suatu proses pembelajaran. Pemilihan metode dalam pembelajaran mempengaruhi pemilihan media pembelajaran. Dalam pemilihan media juga harus diperhatikan kondisi sekolah serta karakteristik siswa, sehingga tujuan dari adanya pemberian media dapat terwujud. Menurut Azhar (2009: 15), media pembelajaran memiliki pengaruh dalam memberi dampak terhadap kondisi siswa, dengan kata lain, dalam menciptakan kondisi sekitar pembelajar yang kondusif.
Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Kebanyakan guru, dosen, atau pelatih yang menggunakan media tidak mendasarkan pilihan medianya pada pemikiran logis dan ilmiah, melainkan lebih karena mengikuti perkembangan majunya teknologi atau karena mengikuti kebiasaan yang berkembang di lingkungan sekolah. Tidak sedikit juga, dalam proses belajar mengajar dikelas para pengajar membiasakan penggunaan media yang telah disediakan oleh sekolah, sehingga penggunaan media tersebut tidak didasarkan pada kesesuaian dengan tujuan, materi, dan karakteristik siswanya.
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Menurut Sardiman (2007: 7) media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee dalam Hujair, 2013: 3-4). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan dapat digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Maka dapat dikatakan bahwa, bentuk komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana untuk menyampaikan pesan. Bentuk-bentuk stimulus dapat dipergunakan sebagai media, diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia, realitas, gambar bergerak atau tidak, serta tulisan dan suara yang direkam. Adanya kelima bentuk stimulus ini, akan membantu pembelajar mempelajari bahan pelajaran. Dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk stimulus yang dapat dipergunakan sebagai media adalah suara, penglihatan, dan gerakan (Eysink, 2009: 1110).
Menurut Azhar (2009: 15) media pembelajaran memiliki salah satu fungsi utama sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim , kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan guru. Munadi (2013: 49-52; 57) mengemukakan bahwa media dalam proses pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok besar, yaitu media audio, media visual, media audio visual, dan multimedia.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Ismail yang berjudul meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV sekolah dasar tentang keragaman budaya bangsaku melalui model make a match dalam pembelajaran IPS menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah adanya pembelajaran menggunakan metode make a match. Mengacu pada penelitian tersebut dengan disesuaikan oleh kompetensi pada mata pelajaran Geografi di SMA metode make a match dipadukan dengan media visual. Penggabungan Metode make a match dengan media visual akan dapat menambah motivasi siswa dalam pembelajan sehingga hasil belajar siswa juga akan meningkat.
Metode dan media pembelajaran merupakan aspek yang saling terkait satu sama lain, Pada proses belajar mengajar guru harus mempunyai metode atau cara yang efisien untuk menyampaikan materi dan juga harus mempunyai keahlian dalam menggunakan berbagai macam media pembelajaran, terutama media yang digunakan dalam proses mengajarnya, sehingga materi ataupun pesan yang disampaikan akan tersalurkan dengan baik pula. Penggunaan metode
pembelajaran yang dipadukan dengan penggunaan media pembelajaran yang cocok dapat mempercepat tujuan dari proses pembelajaran.
Penerapan metode make a match dengan berbantu media audio visual merupakan inovasi strategi dalam pembelajaran yang belum banyak digunakan terutama di lokasi penelitian. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk melakukan penerapan metode pembelajaran make a match berbantu media visual sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan hasil belajar siswa sehingga mendukung tercapainya tujuan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang. Penelitian ini mendukung teori sebelumnya dan memberikan kontribusi lanjutan untuk penelitian lebih lanjut serta memberikan manfaat praktis bagi guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas untuk memperkaya proses pembelajaran di kelas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian tindakan kelas di laksanakan dengan 2 siklus yaitu siklus pertama yang dilakukan dalam dua kali pertemuan, pada minggu ketiga dan minggu ke-empat Januari, dan siklus kedua dilaksanakan pada minggu kelima Januari dan minggu pertama Februari. Pelaksanaan di kelas X MIPA 2 pada materi litosfer mata pelajaran Geografi. Siklus pertama tentang topik bahasan
tenaga endogen dan topik siklus kedua tenang tenaga eksogen. Berkaitan dengan materi yang dipilih dalam pelaksanaan metode make a match berbantu media visual ini karena berdasarkan observasi materi ini sulit dipahami siswa sehingga motivasi siswa dalam pembelajaran menjadi berkurang. Media visual dipilih karena materi ini membutuhkan banyak penayangan gambar yang kemudian dipadukan dengan metode make a match, sehingga dapat menambah keaktifan dan semangat siswa, karena metode ini adalah metode yang menyenangkan untuk diterapkan kepada siswa.
Setiap siswa membentuk kelompok. Hal ini dirangsang dalam rangka pencapaian kompetensi abad ke-21 yang salah satu diantaranya melatih bekerja sama dalam satu tim yang disebut kolaboratif. Setiap kelompok terdiri atas 6 peserta. Dalam 1 paket, ada 3 kartu, yaitu kartu soal, kartu jawaban, dan kartu penjelasan. Lima paket disiapkan untuk sekali sesi. Guru di sini berfungsi sebagai manajer atau sebagai koordinator pelaksanaan proses pembelajaran sekaligus penilai, Apabila ada kelompok yang salah, kelompok lain harus bersiap-siap membenarkannya sehingga nilainya dapat diambil oleh kelompok lain.
Sebelum pelaksaan siklus pertama dilakukan pre-tes untuk mengukur kemampuan awal siswa terhadap pemahaman suatu materi. Kemampuan awal siswa rata-rata dengan nilai 65 pada siklus pertama. Nilai rata-rata naik menjadi 73 pada siklus kedua, naik lagi menjadi 80. Dari nilai rata-rata tersebut dapat disimpulkan terjadi kenaikan nilai rata-rata dari siklus pertama ke siklus kedua dengan hasil persentase tingkat ketuntasan sebesar 35,48% untuk pre tes atau sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi awal siswa sebelum tindakan. Persentase 35,48% ini menunjukkan masih banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan. Ketuntasan belajar siswa adalah 70, hal ini berdasarkan kesepakatan rapat dewan guru tahun pelajaran 2018/2019 setelah melakukan analisis baik analisis intaks, kapasitas, maupun daya dukung. Setelah pelaksanaan siklus pertama persentase ketuntasan naik menjadi 64,52%. Kemudian setelah adanya evaluasi dilaksanakan siklus kedua dan hasil pada siklus kedua menunjukkan pencapaian persentase ketuntasan siswa sudah 100 persen. Ketuntasan yang 100% ini menunjukkan bahwa siswa telah menguasai indikator-indikator yang ditentukan sehingga tujuan awal yang ditetapkan sebelum pelaksanaan tindakan kelas ini tercapai. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan pada siklus pertama rata-rata nilai 73 dengan persentase ketuntasan 64,52 ini artinya masih banyak siswa yang belum mencapai nilai KKM. Setelah dilakukan evaluasi pelaksanaan pada siklus pertama masih ada kekurangan diantaranya batasan waktu untuk tiap paket belum ditentukan dengan jelas sehingga banyak waktu yang terbuang. Siswa dalam kelompok lain berebut untuk menjawab soal sebelum diputuskan oleh penilai jawaban itu benar atau salah sehingga memicu keributan. Tidak munculnya diskusi dalam akhir permainan tiap kelompok membuat tidak adanya penguatan materi pada siklus pertama ini. Diskusi hanya sebatas dalam satu kelompok ketika mencari pasangan saja. Evaluasi siklus pertama dijadikan bahan perbaikan siklus kedua. Pada siklus kedua waktu diatur, lemparan jawaban hanya boleh dilakukan apabila kelompok tersebut oleh penilai dinyatakan salah jawabannya, serta tiap sesi dalam kelompok diakhiri dengan diskusi sebagai penguatan pemahaman siswa. Siklus kedua meunjukkan kenaikan yang signifikasi baik nilai rata-rata menjadi 80 dan ketuntasan siswa menjadi 100%. Untuk mengetahui perbandingan nilai rata-rata dan ketuntasan siswa dari pelaksanaan pre-tes, siklus 1, dan siklus 2. Kenaikan rata-rata nilai menjadi 80 dengan ketuntasan 100% pada siklus kedua menunjukkan bahwa pelaksanaan penelitian tindakan kelas sudah berhasil pada siklus kedua. Sehingga pada penelitian ini hanya ada siklus pertama dan siklus 2. Pelaksanaan metode make a match dikolaborasikan dengan media visual yang melibatkan aktivitas siswa. Siswa dieksplorasi untuk dapat terlibat dalam setiap aktivitas pembelajaran. Keterlibatan siswa dalam setiap aktivitas pembelajaran mampu menggali keaktifan siswa. Proses pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan menunjukkan adanya peningkatan tingkat keaktifan siswa diantaranya keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran, keaktifan siswa dalam menjalin kerjasama dalam kelompok, dan keaktifan siswa dalam mengikuti setiap aktivitas pembelajaran. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulan keaktifan siswa mengalami kenaikan dari siklus 1 ke siklus 2.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian tindakan kelas (PTK) mampu menawarkan cara dan prosedur untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar-mengajar di kelas. Mata pelajaran Geografi adalah mata pelajaran dengan bahasan yang luas dan materi litosfer dianggap materi yang sulit dipahami berdasarkan hasil observasi karena membutuhan pembelajaran yang kontekstual sehingga membutuhkan media pembelajaran yang tepat. Penggunaan metode pembelajaran memerlukan media pembelajaran sebagai daya dukung dalam proses pembelajaran. Perpaduan metode dengan media pembelajaran yang sesuai dapat saling mendukung dan menambah keaktifan dan pemahaman siswa terhadap materi. Media pembelajaran visual ternyata dapat membantu menggiring siswa ke dunia nyata yang ditambah dengan metode make a match pembelajaran dapat lebih menyenangkan sehingga mampu meningkatkan keaktifan, motivasi dan hasil pembelajaran.
