Artikel

Guru HOTS

Bahwa guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru, merupakan harapan yang tak akan pernah pudar. Mengapa kini menjadi sebuah harap? Apakah meragukan etos kerja para penerus Umar Bakri itu? Atau orang-orang tak menaruh hati lagi pada pengabdi yang kini mulai digaji cukup tinggi dengan tunjangan juga di sana sini? Bisa jadi.

Sebab, ekspektasi terhadap seorang guru, sampai kapan pun akan selalu mengikuti perkembangan waktu. Harapan bahwa guru ujung tombak pendidikan, bukanlah sekadar bunga rampai pemanis ruang tunggu. Karena pada kenyataannya peran guru (penyumbang terbesar untuk kemajuan suatu bangsa itu) memang bukan sebagai tugu. Laksana monumen yang ada, dibangun megah tapi tak memiliki ruh. Lantaran disadari atau tidak, para guru jelas dituntut untuk menjadi pendidik sekaligus pegawai yang tidak hanya mengajar.

Sementara itu, realita dari fenomena pendidikan tentang kerja guru, sejatinya adalah sebuah profesi. Seorang guru yang berkompetensi harus melaksanakan kegiatan dan sangat memerlukan keterampilan, pengetahuan, dan keahlian mumpuni. Dengan disiplin, etika yang dikembangkan dan diterapkan, merupakan janji/ikrar dari sebuah konsekuensi pekerjaan. Menjadi guru adalah pekerjaan yang mengandalkan komitmen dan konsistensi. Profesi guru adalah pekerjaan tentang konsep, menerapkan informasi, dan kemudian memproses informasi menjadi sebuah solusi. Dengan kata lain menjadi guru adalah menjadi petugas sosial yang bernas, pengabdi yang kaya informasi, pendidik yang berbudi baik, dan pengajar yang “hots”.

Harapan di atas bukanlah berupa asa, bukan pula janji, apalagi hoaks. Kompetensi yang dimiliki menjadi strategi menyiasati gesitnya persaingan teknologi dan derasnya informasi. Apalagi menghadapi pendidikan pada era revolusi industri 4.0 yang diarahkan untuk pengembangan kompetensi abad ke-21. Pendidikan pada masa kini mengarus pada komponen utama yaitu bagaimana berpikir, bertindak, dan hidup di dunia. Sistem pengajaran seperti ini diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran kita.

Melalui konsep berpikir kritis guru telah mengajarkan kepada siswa komponen berpikir kritis, berpikir kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah. Ciri bahwa guru telah mengajarkan komponen bertindak; guru telah menunjukkan arah bagaimana berkomunikasi, berkolaborasi, memahami literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Sementara itu, pembelajaran komponen hidup di dunia meliputi adanya inisiatif, mengarahkan diri (self-direction), pemahaman global, serta tanggung jawab sosial.

Seperti arus informasi yang semakin deras, daya pikat literasi pun semakin luas. Kini muncul pula adanya literasi baru yaitu (1) literasi data (membaca analisis informasi data di dunia digital), (2) literasi teknologi yaitu kemampuan memahami cara kerja mesin mengaplikasikan teknologi (coding, artificial intelligence, and engineering principles), dan (3) literasi manusia yang berbicara tentang kemanusiaan (humanities, communication, collaboration). Setidaknya inilah tantangan untuk dapat hidup pada abad kini.

Mungkin kita harus secara sadar, sengaja bercermin diri dengan kaca yang besar untuk mengetahui telah sampai pada tahap manakah kita (sebagai seorang guru) berkontribusi terhadap kemajuan/perubahan/perkembangan anak didik.  Masih membekas dalam ingatan, telah terjadi kasus guru sebagai provokator intoleransi bagi peserta didiknya sendiri, melakukan pembangkangan aturan jabatan, dan melewati batas perlakuan terhadap simbol kenegaraan. Hal ini justru sangat berlawanan dengan peran dan fungsi jabatan seorang guru yang menjadi pelayan masyarakat. Ditambah pula dengan hasil survei (baru-baru ini menyasar beberapa guru bidang studi tertentu) yang hasilnya terdapat kurang lebih 29 guru    terindikasi terpapar radikal.                                                                                         

Kembali, guru adalah sebuah profesi. Profesi keguruan merupakan profesi yang berkaitan dengan kemajuan suatu bangsa. Bahwa menjadi seorang guru merupakan jabatan profesi, tentu lekat dengan dedikasi dan konsekuensi tadi. Hal ini secara otomatis mematahkan anggapan bahwa setiap orang dapat menjadi guru. Tidak. Profesi guru bukan pekerjaan sampingan yang dikerjakan sambil menggali TI saat pagi hari, menjaja dagangan bila jam siang, mengantar istri di tengah hari, atau mengasuh anak kala jam senggang. Intinya sebuah profesi guru adalah hakikat jati diri.

Untuk itu, pemberlakuan kurikulum (Kurikulum 2013—Kurikulum Nasional) serta pengembangannya berangkat dari keinginan pemerintah untuk memurnikan peran pendidikan dalam pembangunan bangsa. Karena hasil keluaran pendidikan kita dihadapi oleh tantangan internal dan tantangan eksternal yang di antaranya yaitu tantangan masa depan dan fenomena negatif yang mengemuka sekarang ini.

Sayangnya irama perjuangan guru, di luar mainstream menuntut penghargaan hak ekonominya, guru kurang optimal dalam memperjuangkan apa yang dinamakan “program mendesak” peningkatan mutu. Masih saja ada guru yang menjadi robot, kaku untuk dirinya sendiri atau untuk misi-misi isu terkini. Menjadi robot kurikulum dan berbagai proyek-proyek berbiaya mahal yang mengatasnamakan gagasan peningkatan indeks kualitas pendidikan nasional(?)

Pengembangan kualitas guru tidaklah hanya bisa ditempuh dengan program upgrading guru bernuansa proyek. Namun perlu “revolusi” mentalitas guru. Ini hal yang terpenting. Revolusi mentalitas guru yang dibutuhkan adalah adanya proses perubahan kultur feodalistik menjadi emansipatorik di kalangan guru dulu, sebelum berlagu dalam aktivitas guru. Selain itu, diperlukan penguatan keyakinan ideologis guru bahwa mereka adalah majelis ilmu yang benar-benar bermutu.

Salah satu tantangan terberat bagi dunia pendidikan pada era sekarang ini adalah bagaimana menyiapkan manusia Indonesia yang cerdas, unggul, dan berdaya saing akan tetapi tetap menjadikan anak didik sebagai warga yang sopan, santun, menyayangi orang tua, menghormati guru, setia kawan, dan bertakwa. Menurut hemat penulis, hanya dengan bermodalkan hasil pendidikan manusia yang cerdas, unggul dan berdaya saing sajalah yang membuat kita mampu bermitra dan berkompetensi pada tataran global.

Dalam kondisi bagaimana pun guru tetap memegang peranan. Eksistensi guru tetap penting, karena peran guru tidak seluruhnya dapat digantikan dengan teknologi. Kecanggihan komputer misalnya, tetap saja tidak dapat dijadikan tandingan dengan keberadaan guru karena benda tersebut tidak dapat memberi teladan, bahkan dapat menyusahkan jika penggunaannya tidak ditunjang keberadaan perangkat tambahan. Ia dapat difungsikan karena kecerdasan manusianya sebagai para pengguna.

Untuk itulah, dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, antara lain selalu memberikan pelatihan (upgrading) dalam pembinaan pembelajaran, karier, dan prestasi kerja guru.

Dengan demikian, yang sangat kita perlukan saat ini adalah guru yang mampu mentransfer pemahaman bagaimana memadukan materi (mengintegrasikan informasi), menggeneralisasi kasus demi kasus, memberikan solusi dalam membangun, hingga melakukan investigasi, agar peserta didik memiliki pemikiran yang kritis. Penilaian hasil belajar yang diharapkan pun akan dapat membantu siswa untuk meningkatakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/ HOTS).

Guru menjadi e-teacher, guru professional, yang mampu membangun keterampilan sesuai dengan perkembangan teknologi. Menjadi blended teacher, yaitu guru yang mampu mengolaborasi berbagai situasi, berbagai dunia nyata dan tidak nyata (maya), pembelajaran langsung maupun tidak langsung (kolaboratif), sehingga akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna (Badrul Khan, 2005). Sangat penting menyadari keberadaan guru. Sebagaimana pentingnya menjadi guru yang HOTS “Guru Harus Otomatis Ter-update Siap”.  

Guru layak mampu, menjadi guru yang memiliki rasa malu bila tidak mau maju. Dan bukankah kita bahagia sebagai guru? Semoga, Selamat Hari Guru…

Penulis: 
Kurniati, M.Pd. | Penulis adalah Kepala SMAN 1 Riau Silip
Sumber: 
BTIKP