Bulan November ini bagi sekolah yang telah melaksanakan kurikulum merdeka disibukkan dengan gelar karya hasil dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Ada pentas seni, ada pameran hasil kerajinan tangan dan karya seni, ada juga berupa bazar produk makanan yang semuanya dikerjakan oleh siswa. Guru hanya memfasilitasi sarana dan prasarana agar kegiatan gelar karya tersebut terselenggara dengan baik.
Di bulan November ini juga, ada satu hari penting bagi semua guru di Indonesia, yaitu pada tanggal 25 November. Di mana pada hari itu semua guru di Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Untuk event ini biasanya sekolah juga mengadakan kegiatan-kegiatan untuk merayakannya. Entah itu berupa upacara bendera khusus hari guru, lomba-lomba antar guru, dan pemberian cinderamata atau penghargaan kepada para guru. Jadi praktis bulan November ini sekolah disibukkan dengan berbagai kegiatan di luar kelas.
Di sela-sela kegiatan yang cukup padat itu, sebagai salah seorang guru, terlintas di benak ini pertanyaan, apakah saya sudah menjadi guru yang benar bagi siswa-siswi saya? Apakah saya sudah mendekati menjadi guru ideal bagi siswa-siswi saya? Tentunya sebagai manusia biasa, saya masih banyak kekurangannya, jauh dari kata sempurna dan ideal.
Di era digital sekarang ini, ciri guru ideal tentunya berbeda dengan ciri guru ideal di era Ki Hadjar Dewantara. Karena banyak perbedaan di antara kedua masa itu, terutama adanya perkembangan teknologi komunikasi di era digital yang tidak ada di era Ki Hadjar Dewantara. Namun ada satu hal yang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun, yaitu karakter guru ideal. Karena karakter guru yang baik, akan selalu dibutuhkan walaupun zaman terus berkembang.
Menurut ajaran Islam yang saya anut, konsep guru ideal telah diterangkan oleh para ulama, salah satunya oleh Syaikh Al Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim yang dituliskan sebagai seorang guru atau pendidik seharusnya memiliki kealiman yang tinggi, memiliki sifat wara’, memiliki pengalaman yang lebih, atau dari sisi umur lebih berumur tua, memiliki akhlak yang mulia, berbudi pekerti, dan memiliki akhlakul karimah, memiliki kebijaksanaan, memiliki dasar norma dan pengetahuan, memiliki sifat penyabar.
Pendiri organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy‟ari menyatakan bahwa kepribadian seorang guru menganjurkan ketika guru hendak mau mengajar maka sebaiknya bersuci dari hadas dan najis terlebih dahulu, membersihkan diri, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang sesuai dengan zamannya. Guru melakukan itu semua dengan niat untuk memuliakan ilmu dan mengagungkan syari’at Allah Ta;ala, menyebarkan ilmu, menghidupkan agama islam, menyampaikan hukum-hukum Allah Ta’la yang mana manusia diamanahi untuk mengerjakannya dan diperintahkan untuk menjelaskannya, menambah ilmu dengan menampakkan kebenaran dan kembali kepada yang haq, dan sebagai sarana untuk berzikir bersama kepada Allah Ta’ala, berdoa untuk keselamatan saudara sesama muslim dan mendoakan para pendahulu yang sholih.
Mencermati pernyataan alim ulama tersebut di atas, ternyata karakter seorang guru ideal memang sangatlah mulia. Adab sebagai seorang guru harus lebih dikedepankan daripada keilmuannya. Sebagai guru yang hidup di era digital ini, kiranya perlu lebih diperinci lagi dari apa yang sudah disampaikan para ulama tersebut. Karena sebagai guru di era digital, selain harus mendekati kondisi ideal seperti yang telah dipaparkan di atas, juga harus memiliki sikap profesional.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini adalah ciri karakter guru era digital dalam upaya menjadi guru ideal dan profesional. Pertama, pembelajar seumur hidup. Sebagai guru tidak boleh berhenti belajar, karena pendidikan itu sendiri terus berkembang seiring perkembangan zaman. Guru dituntut untuk selalu mengembangkan kompetensi dirinya, baik itu melalui komunitas belajar sesama guru maupun dengan para profesional di bidangnya.
Kedua, panutan dalam bertindak. Guru selalu menjadi pusat perhatian bagi para siswanya, oleh karena itu guru harus selalu waspada akan perilaku dirinya sendiri dimanapun dan kapan pun. Para siswa selalu mengamati dan belajar cara bagaimana gurunya berbicara, bertindak, dan memperlakukan orang lain.
Ketiga, mudah menerima perbedaan. Sifat ini juga mengacu pada kemampuan guru memahami pendapat orang lain, rendah hati, memiliki belas kasih kepada sesama, kooperatif, dapat menerima keluhan, dan mudah memaafkan. Termasuk bisa menerima siswa dengan segala permasalahan yang dibawanya ke sekolah. Guru juga harus meyakini bahwa setiap siswa pada dasarnya memiliki potensi untuk dikembangkan dan memiliki hak yang sama untuk belajar.
Keempat, komunikasi yang jelas, baik verbal maupun non verbal. Selain berkomunikasi dengan siswa, guru juga harus bisa berkomunikasi dengan baik kepada sesama guru, orang tua siswa, dan masyarakat. Tanpa komunikasi yang baik, maka apa yang ingin disampaikan akan sulit dipahami orang lain, bahkan salah-salah malah menimbulkan perbedaan pendapat.
Kelima, menguasai kurikulum, materi dan multi metode pembelajaran. Guru seperti yang telah disebutkan sebelumnya harus mengikuti perkembangan zaman, termasuk perkembangan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Karena dengan demikian akan selaras apa yang dicita-citakan pemerintah dengan apa yang dikerjakan guru di sekolah. Dan perkembangan kurikulum itu baru dapat diikuti oleh para guru, jika mereka terus belajar.
Keenam atau yang terakhir, stimulatif. Stimulatif artinya mendorong siswa untuk terus maju dengan cara membuat pembelajaran menyenangkan yang dapat menarik minat mereka. Langkah ini dapat membantu keinginan siswa untuk belajar dan bahkan memicu kreativitas, pemikiran kritis, dan kemampuan kolaboratif yang dapat mereka terapkan di luar kelas. Tentunya, langkah ini akan berdampak pada partisipasi mereka di sekolah, berprestasi lebih baik secara akademis, dan keinginan menjalani pendidikan berkelanjutan.
Semoga semua guru di Indonesia memiliki keinginan untuk menjadi guru ideal. SELAMAT HARI GURU NASIONAL.
