
Andrea Hirata, siapa yang tak mengenal beliau, karyanya mendunia dan menginspirasi banyak orang. Lahir di Belitung 24 Oktober 1967, anak kelima dari pasangan Seman Said Harun Hirata dan Masturah, berhasil menulis novel Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) yang telah diterbitkan ke-25 versi bahasa asing, diedarkan di lebih dari 130 negara, diadaptasi ke bentuk film, musikal, serial TV, audio book, dan menjadi referensi di berbagai sekolah dan lembaga di luar negeri untuk studi tentang pendidikan, sastra dan budaya Indonesia, serta menjadi buku pertama International best seller dari Indonesia.
Sepanjang tahun sejak diterbitkan karya monumental literasi bermutu, Andrea Hirata tak berhenti menjadi langganan pemenang berbagai penghargaan sastra internasional dan sampai saat ini ia aktif memberi kuliah creative writing di universitas di dalam dan luar negeri. Pencapaiannya membanggakan dan Andrea Hirata adalah aset bangsa yang tak mahir menyebarkan berita bohong (hoax). Sebaliknya ia mewartakan kegembiraan dan mengharumkan nama ibu pertiwi di dunia internasional.
Membangun Kompetensi Literasi
Lantas mengapa saat ini masih ada saja yang mewartakan kebohongan? Sedangkan Andrea Hirata memberi prestasi, menginspirasi. Mari merakit pikir melakukan refleksi sebab akan selalu lahir generasi yang menjadi sangsi dan rawan provokasi manakala selalu dijejali dengan duri-duri penuh benci. Tak sehat terus mencaci maki, berhenti menghakimi apalagi miskin informasi. Bukankah kecanggihan teknologi yang tersedia saat ini guna menunjang bagi para pembelajar? bukan malah menciptakan para pembelajar yang mahir menyebarkan berita kebohongan. Seharusnya semua sadar bahwa apapun motif dan tujuan menyebarkan hoak telah menjadikan bangsa ini saling menyerang dan menyudutkan satu sama lain.
Andrea Hirata tak meminta mengultuskan dirinya. Dengan begitu cukuplah kita sesuai profesi mengambil tiap bagian kecil peran positif yang dimiliki. Bersinergi memberi bukti berkontribusi, dimulai dari membangun kompetensi literasi sebagaimana Andrea Hirata penuh energi mengabdi pada negeri.
Mengapa perlu membangun kompetensi literasi? Ratna Lukito (dalam Media Indonesia, 06/08/2018) mengatakan riset yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain, Connecticut, AS pada 2016 menempatkan Indonesia pada negara dengan tingkat dua terendah dari 61 negara yang dinilai tingkat literasinya. Bahkan menurut data UNESCO Institute for Statistics 2015, dibanding beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, Indonesia berada pada tingkat terendah capaian literasinya.
Fakta tersebut haruslah menjadi refleksi khususnya bagi generasi negeri untuk meletakkan literasi sebagai pondasi. Derajat literasi harus ditingkatkan guna mengasah kreasi berpikir bukan sebaliknya terjebak pada kedangkalan berpikir. Dengan menjadikan literasi sebagai pondasi, niscaya kita mampu memfilter (secara objektif) berita-berita bohong/dusta karena membaca secara kritis setiap informasi. Di sini lah literasi dimaknai tak sekedar membaca dan menulis. Namun literasi sebagai suatu kemampuan untuk memaknai segala bentuk informasi secara kritis sehingga menghasilkan suatu pemahaman yang benar dan tepat apalagi dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan segala kompleksitas yang ada.
Makna literasi sesungguhnya bertalian dengan belajar, maka mari belajar dari kemasyhuran para tokoh bangsa yang berbanding lurus dengan kebutuhan dan kesadaran literasi pada mereka. Bukankah ada pepatah mengatakan “orang yang gagal dalam hidup ialah orang yang hidup dan gagal belajar”. Oleh sebab itu kompetensi literasi harus ditanamkan kepada generasi bangsa untuk menjadi modal utama dalam mewujudkan bangsa yang cerdas dan berbudaya. Terlebih lagi kita dihadapkan pada tantangan abad ke-21 yang menuntut kita memiliki kecakapan belajar dan berinovasi, kecakapan menggunakan teknologi informasi, kecakapan hidup untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat.
Pengembangan Karakter Profil Pelajar Pancasila
Andrea Hirata telah mengajarkan banyak hal, memberi contoh dan menebar manfaat tak hanya bagi kampung halaman tetapi juga bagi negeri tercinta. Andrea Hirata telah mewariskan budaya adiluhung para tokoh bangsa (Soekarno, Hatta, Gus Dur, Habibie, Buya Hamka, dan lainnya) yang terbiasa dekat dengan ilmu pengetahuan.
Oleh sebab itu sebagai keberlanjutan peradaban dan merujuk pula pada fungsi pendidikan nasional yang tercantum pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, pada frasa “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa” maka pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila mutlak diperlukan pada generasi bangsa agar tak mudah terjebak berita hoak yang melemahkan akal sehat.
Selain itu profil pelajar Pancasila (Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; Berkebhinekaan Global; Bergotong Royong; Mandiri; Bernalar Kritis, dan Kreatif) sejalan pula dengan kecakapan hidup abad 21 yang mutlak perlu dimiliki para pemilik masa depan, pemegang estafet kepemimpinan.
Berawal dari motivasi spiritual pelajar Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta tidak menganggap kebhinekaan sebagai ancaman melainkan sebagai kesempatan untuk berkontribusi, mengamalkan ilmu pengetahuan untuk berpartisipasi dalam membangun hubungan antar kelompok sosial budaya yang harmonis, demokratis, dan berkeadilan. Aktualisasi pelajar Indonesia dibingkai pula dengan kemampuan gotong royong (rasa kepedulian) terhadap lingkungan dan ingin berbagi dengan sesama untuk saling meringankan beban dan menghasilkan mutu kehidupan yang lebih baik.
Lebih lanjut pelajar Indonesia tak hanya menghayati hubungan cinta kasih antar sesama melalui semangat gotong royong, tetapi memiliki kemampuan kemandirian dalam hal prakarsa maupun pengembangan diri yang didasari pada pengenalan kekuatan dan keterbatasan diri serta mampu mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakannya agar tetap optimal untuk mencapai tujuan baik dalam aktivitas belajar yang dilakukan sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain.
Pelajar Indonesia juga bernalar kritis, yakni mampu memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif secara objektif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis, mengevaluasi, dan menyimpulkan informasi. Tak kalah penting pelajar Indonesia adalah generasi kreatif yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu (orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak), mengekspresikan diri dan mengembangkan diri, serta siap menghadapai berbagai tantangan seperti perubahan dunia yang begitu cepat dan ketidakpastian masa depan.
Mengenang nostalgia “Laskar Pelangi”, profil pelajar Pancasila sebagaimana telah dideskripsikan di atas, telah tertanam pada watak dan jiwa Ikal, Lintang, A Khiong, Mahar, Harun, dan teman-temannya yang tak pandai menebar berita dusta melainkan senantiasa menebar tawa dan tak pernah berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi ****
