Pergantian tahun telah terlewati, namun pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) belum beranjak dari muka bumi. Pemerintah pun telah memperpanjang status kebencanaan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di tanah air. Keputusan itu ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 24 Tahun 2021 tentang Penetapan Status Faktual Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Indonesia yang ditetapkan pada 31 Desember 2021, yang menetapkan pandemi Covid-19 merupakan global pandemic sesuai pernyataan World Health Organization (WHO) secara faktual masih terjadi dan belum berakhir di Indonesia.
Atas informasi terkini pandemi, mari menjadikan hal itu sebagai refleksi dalam mengawali langkah di awal tahun baru, tak sekadar resolusi tanpa aksi. Setiap kita dapat berjuang dengan cara tersendiri menanggalkan kepentingan pribadi dan memberi arti memulihkan kondisi bumi di masa pandemi. Setiap kita, apapun profesinya dapat mengambil peran positif untuk berkontribusi dan mengabdi pada negeri. Meningkatkan kewaspadaan, mematuhi protokol kesehatan, dan melakukan revolusi kebaikan. Sekecil apapun kebaikan itu, jadikan kebaikan itu sebagai kemenangan-kemenangan kecil menuju kemenangan besar dalam memerangi gempuran Covid-19.
Kita harus optimistis dapat mengendalikan dan menghadapi pandemi. Oleh karena itu diperlukan kekuatan pemerintah dan rakyat Indonesia. Kita harus berjuang bersama bangkit dari keterpurukan, saling membantu, dan saling menguatkan satu sama lain sehingga secara perlahan namun pasti seluruh sektor kehidupan berangsur pulih dan kembali tumbuh sesuai harapan.
Tanggung jawab sosial kita sebagai insan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai makhluk berbangsa dan bernegara tak sekadar berada pada level wacana, namun haruslah berlanjut pada level praksis. Aksi solidaritas kemanusiaan dengan cara meringankan penderitaan sesama harus selalu terjaga dengan baik dalam tindakan. Hal inilah yang menjadi impian pemerintah dalam slogan Indonesia yang tangguh dan Indonesia tumbuh.
Semangat Merah Putih Melawan Pandemi
Indonesia yang tangguh dan Indonesia tumbuh sesungguhnya terletak pada semangat kita. Dan semangat kita adalah merah putih. Merah; melambangkan keberanian sekaligus kegigihan bangsa untuk bangkit dan terus menyalakan api semangat berjuang melawan Covid-19. Kita harus menolak menyerah dan terus bergerak dalam satu tagar #bersatumelawancorona.
Putih; melambangkan kesucian dan ketegaran bangsa dalam menerima segala bentuk cobaan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Namun dengan cobaan itu pantang pula bagi kita berpasrah pada keadaan. Dalam kesucian hati tersebut terkandung kekuatan besar, yaitu gotong royong dan optimisme.
Semangat gotong royong harus senantiasa bergelora dalam sanubari, yaitu gotong royong yang mengedepankan prinsip persatuan dan menghargai perbedaan bukan meniadakan perbedaan. Bung Karno mengatakan, “gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, perjuangan bantu binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.”
Sedangkan rasa optimistis harus terus tumbuh dan menjadi modal sosial untuk bangkit bersama melawan Covid-19. Dengan membangun optimisme bersama, akan menjadikan suasana hati menjadi nyaman dan dapat berpikir jernih, sehingga pada akhirnya memberikan dampak positif berupa tumbuhnya kualitas hidup yang lebih baik lagi.
Sampai saat ini kita diibaratkan sedang bersama-sama menggerek tinggi-tinggi merah putih di langit tertinggi. Proses ini masih terus berlangsung dan agar berhasil berkibar tinggi, maka semangat gotong royong dan optimisme harus terus berkobar dan terpatri di sanubari. Ikhtiar untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik merupakan sebuah keniscayaan apabila kita bersatu. Kita harus menyatukan derap langkah untuk bersama-sama bangkit melawan Covid-19.
Pandemi merupakan masalah bersama dan hanya dapat diselesaikan melalui upaya bersama pula. Saat ini negara sudah berusaha keras dengan berbagai cara untuk menekan angka statistik penyebaran Covid-19. Namun upaya negara ini, harus didukung pula dengan kesadaran pribadi untuk mau menjadi seseorang yang berilmu, lalu taat sadar akan kewajiban melakukan pengendalian sosial dengan kecerdasan yang dimiliki baik kecerdasan spritual, rasional, emosional, dan sosial.
Untuk itu seluruh komponen bangsa harus bersatu menanggulangi Covid-19. Kita tidak boleh memilih berpangku tangan di saat bangsa tengah berjibaku melawan wabah Covid-19. Semua pihak harus bergandengan tangan, dan bergerak bersama-sama memulihkan keadaan dan menggapai harapan baru.
Sampai saat ini gejolak pandemi belum sepenuhnya surut. Kondisi ini kita diibaratkan sedang mendaki puncak gunung terjal. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dari para pendaki, termasuk pula mematuhi rambu-rambu perjalanan agar bisa sampai dengan selamat bersama sampai tujuan. Dalam hal ini pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa partisipasi aktif masyarakat untuk taat dan sadar terhadap himbauan pemerintah menjalankan protokol kesehatan, termasuk keikutsertaan mengikuti program vaksinasi.
Semua komponen bangsa diharapkan dapat membiasakan menumbuhkan berbagai sikap positif yang mendukung upaya penanggulangan Covid-19 dan harus menghindari berbagai sikap mental yang menjadi batu sandungan dalam memulihkan kondisi negeri, karena di tengah bahaya pandemi memiliki potensi pula terjadi gesekan-gesekan antarkelompok yang tidak dapat dihindari sebagai akibat kekeliruan menginterpretasikan setiap langkah dan kebijakan negara.
Sebab stigma yang akhirnya bertransformasi menjadi mindset, akan melibas tanpa ampun siapa pun yang tidak kunjung mau memperbarui isi kepalanya dengan ilmu.
