Erni Yulianti, S.Pd, M.Pd
Guru Bahasa Inggris SMA N 1 Pangkalpinang
Artikel ini berisi pengalaman penulis dalam menerapkan Merdeka Belajar yakni dengan pengintegrasian Project based learning sebagai alternatif pilihan terbaik dalam mewujudkan merdeka belajar sebagai model pembelajaran inovatif dan kreatif dalam membekali siswa menerapkan konsep merdeka belajar, diantaranya berpikir kritis, kolaborasi serta mencari solusi terbaik dalam permasalahan yang dihadapi.
Gaungan Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Anwar Makarim memainkan peran penting dalam paradigma pendidikan saat ini, yakni peran seorang guru; bagaimana peran guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, kondusif, mengenal gaya belajar siswa serta lebih memfokuskan pada kebutuhan, minat dan bakat siswa dalam hal ini konteks merdeka belajar. Menciptakan atmosfir kelas yang kondusif dimaksudkan pembelajaran yang disampaikan mencapai tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan target dan membuat siswa lebih termotivasi dalam memahami materi. Di samping itu, Guru harus bisa memikirkan solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul, seperti pendekatan, model, metode yang tepat dalam proses pembelajaran, strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, penilaian yang tepat, serta output siswa yang sesuai dengan yang harapan dari segi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan kata lain guru harus mampu mengimplementasikan tujuan yang dicapai sesuai dengan kebutuhan siswa di era saat ini yang mampu berpikir kritis dalam membudayakan merdeka belajar di kelasnya.
Dalam konsep merdeka belajar, guru diberi kebebasan dalam menentukan langkah yang tepat dan strategis sehingga bisa menjawab semua tantangan dan permasalahan pendidikan saat ini. Bagaimana guru menentukan treatment yang tepat dalam mengaplikasikan konteks merdeka belajar kepada siswa-siswanya dalam mencapai keberhasilan penerapan konsep merdeka belajar. Berkaitan dengan konteks merdeka belajar dalam hal ini, penulis menerapkannya dalam Project Based learning. Project Based learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dalam melakukan suatu investigasi terhadap suatu topik. Investigasi dalam memecahkan masalah dan mencari solusi yang tepat dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan bakat dan ketertarikan siswa. Dalam model pembelajaran project based learning siswa melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintetis, dan pengolahan informasi lainnya untuk menghasilkan berbagai bentuk belajar yang sangat dekat dengan pekerjaan nyata di lapangan. kegiatan tersebut dilakukan siswa secara kolaborasi dan kreatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (mendikbud) “Kemampuan berkolaborasi didunia Pendidikan semakin dibutuhkan di era saat ini, karenanya kolaborasi dan membangun kreativitas menjadi esensi dari kebijakan Merdeka Belajar.
Model pembelajaran Project based learning (PjBL) ini tidak hanya fokus pada hasil produknya saja, namun lebih menekankan pada proses bagaimana siswa dapat menentukan masalah, kemudian memecahkan masalah dan akhirnya dapat menghasilkan sebuah produk. Pendekatan ini membuat siswa mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dengan berpartisipasi aktif dalam pengerjaan proyeknya. Guru merancang suatu masalah yang berhubungan pada kompetensi dasar yang tidak memberikan kontribusi maupun dampak yang baik dalam pencapainnya. Kemudian Guru mencoba menggunakan model pembelajaran yang berbeda dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Sehingga guru merancang model/teknik yang sesuai dengan kebutuhan siswanya. Guru bebas berkreasi sesuai dengan target yang dicapai, begitu juga peran siswa dalam memberikan karya yang sesuai dengan minat dan ketertarikan siswa itu sendiri.
Pembelajaran berbasis proyek selalu bersumber dari sebuah masalah atau pertanyaan. Permasalahan yang harus dipecahkan harus memiliki tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan level siswa. Selanjutnya proyek yang dilakukan siswa harus mencakup pertanyaan-pertanyaan dalam dunia nyata atau yang relevan dengan pengalaman siswa. Dengan demikian siswa dapat menghubungkan antara pengetahuan yang didapatkannya saat pembelajaran dengan manfaat atau kegunaannya di dunia nyata. Metode pembelajaran berbasis proyek hendaknya memberikan kebebasan siswa untuk menentukan strategi memecahkan masalah, produk apa yang akan dihasilkan, dan juga bagaimana cara menghasilkan produk tersebut. Dalam penerapan Project Based Learning siswa diharapkan mampu merefleksikan semua pengalaman yang di dapat selama mengerjakan proyeknya. Kemudian siswa mampu menyimpulkan pelajaran berharga apa yang dapat diambil selama proses Project based learning.
Metode pembelajaran Project based learning juga mengajarkan pada siswa untuk dapat memberikan dan menerima masukan-masukan atas proyek yang dilakukannya. Dengan demikian mereka tidak hanya belajar dari guru tetapi dapat saling belajar dari teman sebaya. Di akhir proses Pembelajaran berbasis proyek, siswa harus mampu mempresentasikan penemuannya atau produk yang dihasilkannya di depan kelas atau bahkan di depan masyarakat umum. Selain berdiskusi tentang proyeknya, diharapkan semua siswa mampu menarik kesimpulan dari apa yang telah dipelajari dan juga dipraktikkan. Dari pemaparan di atas jelas sekali bagaimana penerapan model Project based learning menunjukkan peran siswa dalam berkolaborasi, berpikir kritis, menentukan permasalahan dan mencari solusi terhadap permasalahan, sehingga sejalan dalam konteks merdeka belajar.
Pengalaman yang sudah dilakukan penulis dalam mengimplementasikan model Project-based learning dalam mata pelajaran Bahasa Inggris pada kompetensi dasar teks deskriptif. Guru mencoba mengilustrasikan fenomena sosial yang terjadi di Bangka Belitung, terkhusus di kota Pangkalpinang dalam sebuah video. Sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh pantai-pantai yang indah, hamparan pasir putih yang didominasi oleh bebatuan karang yang besar, selain itu Bangka Belitung juga terkenal dengan kuliner yang enak untuk dicicipi. Namun sayangnya pariwisata di Bangka Belitung belum sepenuhnya terdengar dan terjamah bagi para pelancong baik berasal dari dalam maupun luar negeri. Hal ini menjadi permasalahan mendasar dalam pemberian proyek kepada siswa. Sehingga guru bisa memancing pertanyaan pada permasalahan ini kepada siswa-siswanya. Dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar, Apa yang menjadi penyebab pariwisata di Bangka Belitung belum begitu terkenal baik secara nasional maupun internasional? Apa yang seharusnya kalian lakukan untuk memperbaiki pariwisata di Bangka Belitung agar bisa dikenal dimata dunia? Beberapa siswa sudah melambaikan tangan untuk memberikan komentar mereka, seperti; bagaimana jika kita mempromosikannya lewat sebuah brosur, kemudian siswa lainnya merespons tanggapannya, jika kita hanya membuat brosur, itu hanya bisa dilihat oleh masyarakat Bangka Belitung saja. Kemudian siswa lainnya memberikan tanggapan lagi. Bu saya punya akun Ig dan Channel Youtube, saya ingin membuat sebuah pamflet kemudian menguploadnya di akun Ig dan Channel Youtube sehingga konsumennya bukan hanya masyarakat Bangka Belitung namun bisa dilihat oleh masyarakat Indonesia. Ada juga yang berpendapat ingin membuatkannya dalam bentuk video yakni mendeskripsikan tempat-tempat pariwisata yang ada di Bangka Belitung kemudian mereka menguolapnya dalam Channel Youtube Smansa pkp, selain itu ada beberapa siswa yang memiliki bakat sebagai host, mereka ingin mengabadikan momennya dalam merekam secara langsung, seolah-olah mereka seorang host/pembawa acara, ada juga beberapa siswa yang memiliki bakat seni dalam melukis dan menggambar, ingin mencurahkannya ke dalam sebuah leaflet yang ditulis, digambar dan dilukis sendiri. Dari hasil diskusi di atas sudah terlihat bahwa siswa-siswa SMAN 1 Pangkalpinang memiliki bakat dan ketertarikan yang berbeda dalam menyelesaikan proyek yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing siswa memiliki bakat, ketertarikan dan kemampuan yang berbeda-beda. Merdeka belajar dalam hal ini memerdekakan siswa dalam berkarya dan belajar sesuai dengan bakat, ketertarikan dan kemampuan siswa itu sendiri dalam menghasilkan proyeknya.
Selanjutnya anak dikelompokkan sesuai dengan bakat, ketertarikan dan kemampuan masing-masing sesuai dengan hasil pada tahapan pertama dalam menentukan pertanyaan mendasar pada masalah yang dihadapi dalam mengembangkan pariwisata di Bangka Belitung. Siswa dikelompokkan sesuai dengan bakat, ketertarikan dan kemampuan mereka dalam menghasilkan proyeknya. Dalam hal ini terbagi ke dalam 10 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 sampai 4 siswa. Melalui hasil diskusi sebelumnya didapat hasil proyek yang dihasilkan untuk 3 kelompok dengan bakat dan ketertarikan yang sama yakni berupa brosur yang didesain sendiri melalui lukisan dan gambar tangan siswa itu sendiri dikarenakan siswa-siswa ini memiliki kemampuan dalam menggambar dan melukis, kemudian 3 kelompok berupa pamflet yang akan disebarluaskan melalui dunia maya dikarenakan siswa-siswa ini memiliki bakat dalam pemanfaatan teknologi, selanjutnya 2 kelompok lainnya membuat video kreasi dalam mendeskripsikan tempat-tempat pariwisata di Bangka Belitung, kelompok ini adalah siswa-siswa yang suka berbicara dan senang bergaya di depan kamera sehingga tujuan akhir dalam videonya disebarkan ke Channel Youtube sekolah dan kantor pariwisata di Bangka Belitung, 2 kelompok terakhir merekam videonya seolah-olah mereka host/pembawa acara, kelompok ini terdiri dari siswa-siswa yang suka pada dunia host/pembawa acara. Selanjutnya setelah mendesain proyek yang dihasilkan, guru dan siswa menyusun jadwal kegiatan proyek ini, dari awal kegiatan sampai dengan penyelesaiannya. Tidak hanya sampai di sini, guru selalu mengawasi jalannya proyek ini sesuai dengan target yang ditentukan bersama. Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi siswa pada setiap proses untuk mengetahui perkembangan proyek tersebut. Dengan kata lain, guru berperan sebagai mentor bagi aktivitas siswa. Guru mengajarkan kepada siswa bagaimana bekerja dalam sebuah kelompok. Di mana setiap siswa dapat memilih perannya masing-masing dengan tidak mengesampingkan kepentingan kelompok. Siswa terlihat bersemangat dalam menyelesaikan proyek ini yang terlihat dari lembar kemajuan proyek yang dilaporkan siswa baik secara individu maupun kelompok. Lembar kemajuan ini terlihat mereka antusias dan senang dalam mengerjakan proyek ini. Selanjutnya pada tahap menguji hasil, dalam tahapan ini penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, memotret kemajuan masing-masing kelompok kemudian memberi umpan balik pada tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa dalam membantu guru menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
Pada tahapan terakhir yakni tahap mengevaluasi pengalaman. Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru dan siswa menciptakan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, diskusi berjalan dengan baik dan ramai dikarenakan semua siswa berusaha untuk memberikan pendapat dan pengalaman menarik yang mereka rasakan saat menyelesaikan proyek mereka, terlihat bagaimana siswa-siswa begitu antusias dalam mengungkapkan pendapat, ide dan pengalaman mereka. Mereka terlihat bahagia dengan hasil produk yang diselesaikan dengan penuh rasa bangga dikarenakan mereka berhasil menyelesaikan proyek sebagai tagihan belajar mereka berdasarkan bakat, ketertarikan dan kemampuan yang dimiliki mereka. sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.
Dari pemaparan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran Project based learning mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu menerapkan berbagai pengetahuan/ disiplin ilmu yang sesuai dengan bakat, ketertarikan dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas sehingga memberikan pembelajaran yang berarti dan bermakna dalam mendapatkan pengalaman yang berharga, mendorong dan membimbing siswa untuk mampu berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah, merancang dan mengembangkan tugas-tugas yang dapat memberi tantangan pada siswa dalam menunjukkan bakat, ketertarikan dan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan menggunakan berbagai metode dalam pemecahan masalah sehingga siswa semakin termotivasi dalam menyelesaikan proyek tersebut tanpa merasa terbebani. Sehingga pembelajaran dalam konteks merdeka belajar menjadikan siswa lebih visioner dan kritis dalam melihat peluang masa depan dalam menyongsong masa depan yang mereka inginkan. Dengan kata lain pendidikan harus memerdekakan siswa untuk berkembang seluas-luasnya dan memberi ruang siswa dalam menentukan permasalahan, penyelesaian masalah, berkreasi, berani berkarya, dan berani mengambil risiko. Hidup Mereka Belajar
