
Pendidikan adalah modal dalam mengarungi hidup sebagai manusia di dunia ini. Selaras dengan tujuan pendidikan tersebut, menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan memberikan tuntunan yang baik. Dengan pendidikan yang baik manusia akan menjadi pribadi yang siap membentuk kebaikan bersama manusia lain sebagai kebiasaan yang nantinya membudaya. Trial and error yang terjadi dalam proses pendidikan merupakan ruang berlatih yang nyata bagi setiap pribadi untuk menjadi lebih bijaksana. Inilah proses dimana pendidikan dikatakan sebagai tuntunan. Tuntunan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki 3 arti, yaitu bimbingan, petunjuk dan pedoman. Pendidikan merupakan tuntunan yang tentu saja memberikan manfaat bagi siswa. Semuanya bersumber dan berpusat pada anak- anak itu sendiri, bukan guru sentries. guru ada , hadir ditengah anak- anak untuk bersama melakukan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dan keunikan setiap anak/ siswa.
Di ruang kelas orientasi pembelajaran utamanya adalah siswa. Guru yang diibaratkan sebagai petani harus paham karakter, kompetensi, serta keunikan siswa yang lainnya. Tuntunan yang diberikan guru kepada siswa harus sesuai dengan kapasitas siswa tersebut. Guru tidak bisa memaksa suatu cara, sistem atau model pembelajaran kepada siswa tanpa didahului dengan diskusi tentang keinginan siswa dan tujuan belajar yang ingin di capai siswa. Ketika petani mengalami kendala, entah benih tanaman yang tidak bagus, kondisi tanah yang kering dan tidak subur, pak petani harus tetap tekun merawat tanaman tersebut dengan segala upaya. Begitu halnya guru apabila menemukan kendala dalam pembelajaran entah itu kejenuhan siswa, dan tingkat kemampuan siswa yang berbeda guru harus kreatif dan mengembangkan kompetensi agar dapat memberikan variasi pembelajaran pada siswa. Seperti halnya di masa pandemi ini ketika pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara terbatas, penggunaan teknologi adalah hal yang wajar. Guru harus mau mengikuti perkembangan pendidikan.
Ki Hajar mengingatkan bahwa pada hakikatnya guru harus mau bergerak mengikuti kodrat alam dan kodrat zaman setiap siswa. Karena siswa akan merasa lebih dihargai apabila guru berangkat dari kodrat yang sama dengan mereka para siswa. Menghargai adalah bentuk dari sifat kemanusiaan. Pendidikan harus mengasah rasa kemanusiaan. Sehingga nantinya para siswa dapat menjadi siswa yang memiliki toleransi terhadap perbedaan yang terjadi di dunia nyata. Perwujudan dari profil pelajar Pancasila yakni berkebhinekaan global. Bagaimana agar pendidikan senantiasa menjadi tuntunan dan dan bukan tuntutan , ditengah terjadinya kodrat zaman?
Pembelajaran berdiferensiasi adalah jawabannya. Pelaksanaan pendidikan salah satunya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran di sekolah sebagai lembaga pendidikan resmi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid (Tomlinson, 2000). Pembelajaran berdiferensiasi senantiasa diawali dengan kegiatan pemetaan kekuatan belajar murid sebagai upaya untuk memahami kebutuhan belajar murid tentunya. Pemetaan kebutuhan belajar murid dilakukan pada 3 hal. Kesiapan atau readiness perlu di pahami guru sebagai kekuatan murid dalam mengikuti pembelajaran. Kesiapan murid baik kesiapan jasmani dan rohani dalam mengikuti pembelajaran sangat penting diketahui dalam rangka mewujudkan tujuan pembelajaran. Minat dan dan profil belajar murid juga perlu dipetakan agar jelas ketercapaian tujuan pembelajaran.
Minat murid dalam mengikuti pembelajaran adalah modal yang sangat berpengaruh secara signifikan dalam ketercapaian tujuan belajar, apalagi apabilaminat itu bersumber dari dalam diri murid. Minat juga dapat muncul dan dipengaruhi oleh pihak lain, dalam hal ini guru. Jelas bahwa peran guru dalam memberikan motivasi dan lingkungan yang nyaman dalam belajar sangat urgen. Profil belajar murid merupakan hal yang privat bagi setiap murid, sehingga tidak dapat disamakan satu sama lain. Dalam hal ini sekali lagi guru perlu memfasilitasi pembelajaran yang dapat mengakomodir gaya belajar murid yang berbeda satu sama lain.
Setelah memetakan kebutuhan belajar murid maka selanjutnya dapat dilakukan strategi diferensiasi, konten proses dan produk. Konten adalah apa yang kita ajarkan pada murid, kita bisa menentukan jenis bahan ajar seperti apa untuk diberikan kepada kelompok mana. Pada diferensiasi proses adalah bagaimana murid dapat memahami materi. pada kasus diatas kita bisa memberikan tingkat dukungan, tantangan yang beragam sesuai dengan kemampuan tiap kelompok. Strategi diferensiasi produk adalah hasil kerja yang ditunjukkan melalui beragam bentuk dan media yang berhubungan dengan pemahaman murid dan tujuan pembelajaran sesuai kebutuhan belajarnya. Yang perlu dimunculkan adalah memberikan varian tantangan dan bentuk yang beragam serta akan memberikan pilihan bagi murid melalui hasil kerja yang ingin mereka lakukan dengan indikator yang jelas. Melalui tiga strategi tersebut maka murid dapat memilihi sendiri dengan cara apa mereka mau tumbuh dan mengembangkan kompetensinya. Sehingga tujuan pembelajaran akan dapat terwujud melalui jalan yang berbeda, tentu saja hal ini sangat menarik dan memberikan nuansa pembelajaran yang dinamis. Beragam kompetensi akan muncul baik dari murid maupun kompetensi guru.
Carol Ann Tomlinson (2017) menuliskan 7 hal yang menyebabkan proses pembelajaran berdiferensiasi berhasil, yakni: 1. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif, 2. Pembelajaran Berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif, 3. Pembelajaran Berdiferensiasi berakar pada penilaian, 4. Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan produk, 5. Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada murid, 6. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual, 7. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis. Di ruang kelas yang berbeda, mengajar adalah sebuah evolusi.
Aktivitas tersebut muncul dalam bentuk yang menjelma dalam pembelajaran yang sebenarnya merupakan gambaran pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat proaktif maksudnya adalah ketika guru mewujudkan pemimpin pembelajaran dengan senantiasa memberikan varian pembelajaran sesuai kebutuhan murid, untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif maksudnya adalah mutu pembelajaran dalam bentuk penugasan misalnya, lebih menekankan pada kualitasnya bukan dari jumlah atau seberapa banyaknya materi yang dipelajari atau tugas yang diberikan. Hal ini tentu saja sangat mendorong terjadinya pembelajaran yang berpusat pada anak.
Pembelajaran berdiferensiasi berakar pada penilaian. Hal ini menekankan bahwa setiap aktivitas pembelajaran adalah sumber penilaian bagu guru. Semua proses pembelajaran, aktivitas dan kemajuan sekecil apapun yang dicapai oleh murid merupakan basis penilaian. Pemberian penghargaan kepada murid tampak jelas, sehingga mampu memberikan pembelajaran yang menenangkan bagi murid. Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan produk. Memperlihatkan bahwa murid dihargai dengan semua kompetensi yang dimiliki dan difasilitasi dengan strategi pembelajaran dari guru. Semua kodrat murid diakui dan diakomodir di sini, menurut konsep Ki Hajar Dewantara. Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada murid, Ki Hajar sangat menekankan pembelajaran dengan konsep ini. Murid difasilitasi dengan beragam pembelajaran baik model dan medianya. Guru senantiasa memberikan tantangan pada setiap pembelajaran agar murid mau dan tidak malu menunjukkan kemampuan yang dimiliki.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual, tentu saja hal ini dilakukan sesuai kebutuhan dan dapat mempermudah tercapainya tujuan pembelajaran. Tidak hanya belajar mandiri, belajar secara berkelompokpu dapat dilakukan dalam upaya melatih kepekaan social, dan interaksi sehingga murid dapat hidup di masyarakat. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis. Di ruang kelas yang berbeda, mengajar adalah sebuah evolusi. Dalam arti bahwa pembelajaran itu senantiasa berkembang, dinamis serta sesuai kebutuhan dalam mencapai tujuan. Selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan harus mampu mengikuti kodrat setiap murid.
Pembelajaran menurut filosofi belajar menurut Ki Hajar Dewantara, merupakan pembelajaran dimana keberagaman kompetensi siswa adalah keunikan yang harus menjadi perhatian dan difasilitasi oleh guru dalam pengembangannya. Pendidikan harus berupa pengajaran dan cara- cara lain agar bersifat komprehensif dalam rangka memfasilitiasi terbentuknya budi pekerti oleh setiap anak. Budi yang dapat menajamkan pikiran (cipta), menghaluskan perasaan (rasa), dan meningkatkan kemauan/ motivasi (karsa). Pekerti yang terlihat dari jasmani yang sehat( raga). pendidikan harus membiasakan hal baik agar menjadi kebudayaan.
Guru baiknya senantiasa membuka ruang diskusi terbuka untuk memahami apa yang dirasakan oleh murid. Dengan ruang diskusi terbuka, siswa tidak akan laku dan sungkan /segan untuk menyampaikan pendapat dan apa yang dirasakan. Dengan demikian tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai, karena keterlibatan dua komponen tersebut. Belajar bisa dimana saja dan kapan saja. Guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang mengakomodir kebutuhan tersebut dengan memunculkan alam keluarga dalam setiap proses pembelajaran.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan hendaknya memberikan ruang untuk senantiasa belajar dengan cita rasa keluarga. Hubungan guru dan anak hendaknya didasari rasa kasih sayang, kepentingan anak adalah utama. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengupayakan terwujudnya kebutuhan belajar murid melalui beragam pendekatan dan pemetaan kebutuhan belajar murid sangat jelas sinergi dengan pembelajaran berdasar filosofi Ki Hajar Dewantara yang memberikan penghargaan serta menghargai murid dengan segala keunikan yang dimiliki. Pembelajaran berdiferensiasi adalah upaya untuk mewujudkan filosifo tesebut. Sehingga dapat pembelajaran denagn tujuan pendidikan yang memberikan tuntunan.
Kunci dari pendidikan yang memberi tuntunan adalah adanya sikap saling menghargai. Guru menghargai siswa dengan segala kelebihan dan kekurangannya dan memberikan pelayanan pembelajaran terbaik sesuai kebutuhan siswa dan terlepas dari segala kepentingan. Inilah yang dinamakan pendidikan yang memberikan tuntunan, bukan tuntutan.
