Oleh Agus Sri Hartono, S.Pd., M.Pd.
Beberapa hari yang lalu dunia pendidikan kita dihebohkan dengan berita yang mencoreng wajah pendidikan. Sebuah postingan yang viral lewat TikTok dengan judul “Ratusan Pelajar di Bawah Umur di Ponorogo Jawa Timur Minta Dispensasi untuk Menikah karena Hamil di Luar Nikah.” Seandainya hal itu benar, maka boleh dikatakan pendidikan kita, khusunya pendidikan akhlak kita telah gagal diimplementasikan. Padahal akhlak merupakan hal penting untuk menentukan moral bangsa bahkan keberlangsungan suatu bangsa.
Sebenarnya berbagai langkah dan upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki akhlak bangsa ini. Melalui Kementerian Pendidikan, untuk mewujudkan anak bangsa yang berakhlak itu lahirlah pelajaran seperti Pendidikan Budi Pekerti, Pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Program Profil Pancasila, serta berbagai hal dan upaya lainnya. Semua itu tentu tiada lain demi terwujudnya anak bangsa yang berakhlak, bermoral, berkarakter yang muaranya adalah terbentuknya karakter bangsa. Karena bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang dibangun dengan pondasi kuat, yaitu pondasi anak bangsa yang berkarakter dan berakhlak mulia. Bangsa yang berkarakter tentu bukan hanya bangsa yang kuat secara finansial atau kuat secara ekonomi, namun juga kuat secara karakter. Karena apa gunanya finansial yang kuat, tanpa ditopang oleh sumber daya manusia yang kuat dalam arti berakhlak dan berkarakter.
Untuk mengimplementasikan pelajaran yang mendukung terbentuknya akhlak pelajar, maka pedoman dalam hal ini kurikulum juga mengalamai pergantian atau perubahan. Pergantian atau perubahan kurikulum ini tentu didasari atas kebutuhan dan perubahan dan dinamika zaman yang ada. Perubahan kurikulum ini juga tentu dalam rangka untuk membentuk akhlak bangsa agar menjadi lebih baik lagi.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar akhlak bangsa ini bisa menjadi lebih baik? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain, pertama dengan mengamalkan Pancasila terutama sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita sebagai umat yang beragama sudah seharusnya menaati ajaran agama yang dianut karena semua agama yang diakui di Indonesia pasti mengajarkan umatnya untuk mempunyai akhlak yang baik. Dengan demikian jika semua umat beragama mengamalkan ajaran agamanya dengan baik, maka akhlak bangsa Indonesia akan menjadi baik.
Kedua, dengan cara bergaul dengan orang baik atau orang yang berakhlak mulia. Ibratnya, jika bergaul dengan penjual minyak wangi, jika pun tidak membelinya paling tidak mendapatkan bau wanginya. Selain itu jangan bergaul dengan tukang pandai besi, jika apinya tidak memercik ke pakainmu, paling tidak kamu akan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap. Maksud dari perumpamaan tersebut adalah jika kita bergaul dengan orang baik digambarkan dengan penjual minyak wangi walaupun kita tidak membelinya kalau kita berada di dekatnya mungkin kita akan dijadikan sampel untuk mengetes minyak wangi tersebut sehingga kita peroleh bau harumnya. Sementara itu jika bergaul dengan orang yang akhlaknya tidak baik diibaratkan seperti tukang pandai besi, kalaupun kita tidak ikut berbuat buruk, maka kita juga akan terkena imbasnya, nama kita akan menjadi buruk. Demikian besar pengaruh pergaulan, maka kita perlu berhati-hati untuk menentukan teman yang kita jadikan sahabat yang setia.
Ketiga, memberikan teladan atau contoh perbuatan yang baik. Sebagai seorang guru yang sudah sepatutnya menjadi panutan dan menjadi contoh atau menjadi seorang yang digugu dan ditiru oleh anak murid dan teman-teman guru lainnya. Dengan memberi contoh atau keteladanan perbuatan yang baik kepada para siswa diharapkan para siswa juga akan tubuh menjadi manusia yang berakhlak baik. Seperti pada sebuah pameo, “Guru kencing berdiri murid kencing berlari.” Jika kita sebagai guru memberikan contoh yang kurang baik, maka siswa akan lebih rusak, demikian juga kalau kita memberikan contoh yang baik kita berharap para siswa akan menjadi lebih baik.
Keempat adalah dengan cara berbuat ikhlas, sesuai dengan doa seorang muslim yang sering dibaca dalam setiap solat, “inna sholati, wanusyuki, wamah yahya, wamati lillahi robbil ‘alamin.” Yang artinya sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan seluruh alam. Dengan demikian aktifitas apapun yang kita lakukan baik itu mengajar dan pekerjaan lainnya kita kerjakan dengan ikhlas hanya karena Allah bukan cuma karena takut sama pimpinan kita. Perbuatan yang demikian akan merubah akhlak kita menjadi lebih baik karena kita selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.
Kelima, upaya untuk memperbaiki akhlak adalah dengan cara meningkatkan keilmuan kita, sesuai dengan perintah Allah SWT. “Iqra’ bismirobbikal ladzi kholaq”. Yang artinya bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Sudah sepatutnya kita selalu meningkatkan keilmuan kita dengan cara membaca. Membaca di sini bisa membaca kitab atau buku-buku yang tertulis maupun membaca ciptaan Allah yang tercipta. Tirulah ilmu padi. Padi semakin berisi semakin merunduk, tentu diharapkan kita semakin berilmu akan semakin tawaduk, bukan sebaliknya semakin berilmu semakin sombong. Kalau saat ini bangsa Indonesia sudah menerapkan aturan terhadap warganya untuk wajib belajar 12 tahun, berarti pendidikan warga negara Indonesia minimal tamatan SMA/SMK sederajat. Karena Pendidikan di Indonesia menerapkan aturan lama Pendidikan SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, maka jika sudah tamat SMA/SMK berarti sudah menempuh wajib belajar 12 tahun.
Selain itu dari segi usia pun pembelajar sudah kurang lebih 19 tahun. Untuk itu usia ini sudah bisa dikategorikan usia dewasa yang bisa membedakan yang baik dan yang buruk sehingga dengan demikian akhlak bangsa akan semakin baik dibarengi dengan keilmuan yang mumpuni. Sebab agama atau akhlak tanpa ilmu akan lumpuh, sedangkan ilmu tanpa akhlak akan buta. Tentu bangsa Indonesia tidak mau menjadi bangsa yang lumpuh maupun bangsa yang buta, maka kedunya harus dikuasai secara bersamaan dalam diri masyarakat Indonesia yang berakhlak dan berilmu sehingga bisa menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Keenam, upaya selanjutnya untuk memperbaiki akhlak adalah dengan cara bersosialisasi dengan orang lain karena kita manusia sebagai makhluk sosial tentu memerlukan interaksi sosial. Rosullulah SAW bersabada “sampaikan dariku walaupun satu ayat”. Ini menunjukan betapa pentinya melibatkan orang lain, untuk menyampaikan atau mengajak kebaikan tidak harus menunggu diri kita sempurna. Kalau kita berbuat baik dan kita sebarkan dengan cara mengajak orang lain, orang lain akan mengikuti kita berbuat baik, maka kebaikan akan semakin banyak. Kalua kebaikan muncul atau semakin banyak, maka kebatilan akan hilang atau sirna, sama seperti kita jika berada di suatu kegelapan tidak cukup dengan mengatakan pergilah kegelapan, tentu gelap tidak akan hilang karena suara kita mengusir gelap. Jika kita bijak tentu tidak usah berteriak pergilah gelap, tapi cukup kita ambil sebatang lilin dan korek api kemudian kita nyalakan lilin maka bersamaaan dengan nyala lilin akan hilanglah kegelapan dan menjadi terang
Untuk itu, Indonesia tidak akan menjadi baik hanya dengan kita berkata “Bangkitlah Indonesia, baik lah Indonesia.” Tapi perlu aksi nyata untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik. Ingat! Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mau merubah dirinya sendiri. Semoga bermanfaat.
| Attachment | Size |
|---|---|
| 217.61 KB |
