Oleh Fauzi, S.Pd.
Pendidikan selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas. Berbagai hal telah terjadi dalam dunia pendidikan, mulai dari awal peradaban umat manusia sampai peradaban yang kita sebut sebagai zaman modern ini. Semua buah kemajuan pendidikan. Dalam literasi Islam disebutkan bahwa Allah subhana wataala telah mengajari Adam As nama-nama benda di surga dan di dunia (telah tercantum pada Alquran). “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat” (QS. al-Baqarah/2: 31)
Kata “mengajarkan” yang kita temui pada ayat tersebut begitu powerfulll untuk perkembangan dunia pendidikan. Ayat tersebut benar–benar memberikan kita sebuah metode ajar yang signifikan yaitu proses diskusi yang terjadi pada adam dan malaikat. Hal ini menyatakan bahwa sebuah komunikasi edukatif antara tuhan dan hamba-Nya, begitulah kebijaksanaan tuhan pada setiap tindakan-Nya. Pertanyaannya, bagaimana Adam bisa dengan cepat mengerti apa yang tuhan ajarkan padanya? Terlepas dari statusnya sebagai manusia pertama dan sebagai nabi?
Jawabannya adalah kemerdekaan menjadi manusia yang memiliki kebebasan berkehendak dan kepasrahan hati sebelum belajar. Kemerdekaan sebagai manusia yang memiliki kebebasan berkehendak itu artinya tak terganggu dengan berbagai hal yang akan menghambat dirinya dalam proses pencarian jati diri yaitu ilmu sejati. Kemerdekaan adalah hak bagi setiap bangsa dalam skala makro, kemerdekaan ialah hak setiap manusia atau hakikat sebagai manusia dalam skala mikro.
Secara harfiah kemerdekaan adalah sebuah kebebasan. Hakikat kemerdekaan tidak harus menunggu proses penjajahan, jika kita beranggapan demikian yang terjadi adalah kesalahpahaman tentang arti kemerdekaan itu sendiri. Kesadaran akan kemerdekaan tidak harus terjadi melalui penjajahan karena kemerdekaan datang dari Tuhan yang maha segalanya dan diturunkan pada setiap makhluk-Nya. Inilah artinya kemerdekaan adalah sikap alami manusia.
Dewasa ini, akar kemerdekaan sepertinya sudah tergerus dalam diri manusia baik sadar maupun tak sadar. Dampak negatif ketika hal itu sudah menjadi penerimaan diri secara tak sadar, sikap ini terekam alam bawah sadar, dan manjadi habit yang buruk untuk kemajuan diri baik di dalam menggapai cita-cita di dunia maupun cita-cita akhirat. Bahkan hal yang paling aneh adalah ketika kesadaran akan kemerdekaan secara sadar hilang begitu saja, karena sifat angkuh pada dirinya yang mengantarkan arogansi penjajahan.
“Penjajahan” dan kemerdekaan begitu erat kaitannya, penjajahan sebagai antitesis dari kemerdekaan merupakan cara terbaik setan dalam menggiring manusia ke dalam jurang kehancuran dunia dan akhirat. Penjajahan merupakan ego pribadi atau pun bangsa yang dapat merusak ekosistem yang ada. Ketidaksetabilan kehidupan merupakan “buah” terbaik dari proses penjajahan. Semakin berkembangnya zaman semakin canggih pula gaya penjajahan, sebagaimana yang disebutkan Bung Karno; penjajahan gaya baru sebagai “neo-kolonialisme”.
Sebagai bangsa yang memiliki sejarah kelam penjajahan, proses penjajahan seharusnya membuat kita jauh lebih sadar untuk membangkitkan sikap merdeka. Banyak hal yang sudah terjadi, laksana neo-kolonilisme, salah satunya adalah penjajahan pada dunia pendidikan. parahnya lagi hal itu dilakukan oleh barat yang katanya sebagai peradaban beradab. Dapatkah kita sadari pendidikan kita masih berwajah “asing”?
Hasil dari pendidikan kita hanya untuk kepentingan barat, kepentingan perusahaan barat, kepentingan budaya barat, dan pada akhirnya kontrol barat pada anak-anak kita yang sangat kita cintai. Pengaruh ini menghasilkan anak-anak tanpa jiwa, anak-anak dengan budaya toxic (buruk). Mengapa hal itu terjadi? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar untuk diperhatikan setiap guru.
Bagaimana budaya kita tidak tergerus oleh asupan peradaban barat tanpa filter keimanan. Anak-anak kita yang luarannya saja seperti merdeka tetapi jiwanya terbelenggu dan terkontrol oleh peradaban asing.
Tidak bisa dipungkiri memang peradaban luar juga memberikan aspek-aspek positif untuk kemajuan kita, tetapi apakah itu memberikan segalanya? Dalam opini ini saya katakan tidak, sebagaimana yang diutarakan oleh Komjen.Pol, Dharma Pongrekeun (mantan wakil badan siber dan sandi Negara) bahwasanya budaya asing (barat) tidak akan memberikan kemajuan pada anda melainkan sedikit. Bayangkan saja Bill Gates dan Mark Zuckerberg tak memberikan anaknya bermain gadget terlalu lama, karena mereka tau dampak apa yang terjadi pada perangkat tersebut. Lantas bagaimana mereka memainkan peran penjajahan tersebut? Kita dapat berpikir.
Budaya asing memainkan peranannya melalui pemisahan atau dikotomi pada keilmuan agama dan keilmuan umum (internal dan eksternal). Hal itu dilakukannya agar anak-anak kita bahkan kita sendiri pelan-pelan perlahan tapi pasti menjadi manusia yang liberalisme, sekurelisme, konsumerisme, hedonism, dan berakhir menjadi atheism secara tak sadar. Mereka ingin melepaskan kita dari hati yang merdeka dalam menuntut ilmu dengan cara membatasi kemampuan kita. Mereka memberikan sebagain teori dan menyembunyikan yang lainnya. Itulah mengapa kita tak sehebat mereka, karena mereka menghilangkan hati yang merdeka pada setiap manusia yang bukan dari golongan mereka.
Untuk itu pendidikan akhlak dan budi pekerti begitu penting. Dalam hal ini, pendidikan Agama Islam berbeda dengan Pendidikan Islam. Pendidikan Agama Islam merupakan suatu disiplin ilmu yang berbentuk mata pelajaran, sedangkan Pendidikan Islam merupakan jantung dari setiap pembelajaran atau kurikulum yang diterapkan. Dengan kata lain Pendidikan Islam merupakan sistem dari proses pembelajaran itu sendiri atau kurikulum itu sendiri.
Lantas bagaimana seharusnya kita sebagai seorang guru? Sebagai seorang guru sudah selayaknya kita bersuara dan memanfaatkan betul subjek dari kemerdekaan secara makna hakikat dari kata kurikulum merdeka itu sendiri. Sebagai kontemplasi bersama, penulis ingin menutup dengan pertanyaan “Sudahkah kita memerdekakan diri kita, baik sebagai manusia atau pendidikan kita?”
