
Istilah kepemimpinan murid diambil dari kata students agency. Kepemimpinan murid sesungguhnya tidak merujuk pada kepemimpinan diri sang murid atas orang lain. Namun demikian, konsep kepemimpinan murid lebih cenderung pada konsep merdeka dimana murid memiliki keleluasaan akses dan kesadaran diri terhadap apa yang menjadi bakat, minat, kesiapan, profil diri mereka untuk dikembangkan. Merdeka dimaknai sebagai sebuah self-regulated learning dimana proses pengembangan diri anak sesungguhnya bukan mutlak berasal dari guru-guru mereka. Dengan kata lain, pada proses pendidikan dan pembelajaran, anak-anak tidak hanya sekedar mengerjakan apa yang menjadi petunjuk, instruksi, tugas, atau sejenisnya dari guru-guru mereka tetapi murid memiliki akses diri akan bakat, minat, kesiapan belajar, profil diri mereka untuk dikembangkan, guru memfasilitasi anak-anak untuk mengenalinya sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep memerdekakan anak dalam konteks kepemimpinan murid.
Mengutip dari pendapat Vaughn. M. (2019) mengatakan bahwa Kepemimpinan murid dalam konteks pembelajaran bersifat multi-dimensi: kepemimpinan murid fokus pada individu berkaitan dengan minat mereka untuk memperkuat konteks pembelajaran di mana siswa dan guru bersama-sama menciptakan konteks pembelajaran itu sendiri. Namun demikian, terkait dengan konsep merdeka belajar, kepemimpinan siswa atau students agency, Meireles, J & Guzzo, R.S.L. (2021) juga mengingatkan bahwa hanya dengan disiplin dan tunduk pada otoritas meningkatkan kualitas sekolah.
Konteks sekolah sebagai sebuah ekosistem dalam kepemimpinan murid selanjutnya dimaknai bahwa siswa memiliki voice, choice, dan ownership dalam proses pembelajaran tingkat satuan pendidikan. Ketiga istilah tersebutlah yang mestinya mendapatkan porsi dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan tingkat satuan Pendidikan. Sehingga, kebijakan atau keputusan yang diambil oleh satuan Pendidikan atau guru-guru mereka pada ruang-ruang kelas merupakan bagian dari suara anak-anak pada satuan pendidikan tersebut. Dalam konteks inilah kemudian kepemimpinan murid dimaknai.
Kepemimpinan murid dalam konteks pembelajaran, murid adalah pemegang kendali dalam pembelajaran atas masing-masing diri. Artinya, guru atau pendidik seoptimal mungkin memfasilitasi, membimbing, mengarahkan (menuntun) anak sesuai dengan profil, bakat, dan kesiapan belajar mereka. Maka, seorang anak mestinya tahu apa yang dibutuhkan dan paham memenuhi kebutuhan diri akan proses pembelajaran, guru menuntun anak-anak mengenalinya. Inilah salah satu konsep merdeka belajar seri kepemimpinan murid. Dengan kata lain, sekecil apa pun siswa dalam diri mereka memiliki motivasi untuk belajar. Guru menumbuhkembangkan motivasi tersebut sesuai kodrat alam dan zaman pada masing-masing individu anak. Ketika guru secara sepihak memutuskan semua yang harus murid pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut, maka dalam konteks inilah murid sebagai pemimpin pembelajaran tidak mendapatkan porsi pada tempatnya. Pada Praktiknya, saat dirancang sebuah program atau kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana murid dapat ditempatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program atau kegiatan pembelajaran tersebut.
Murid, sekali lagi dalam konteks sebagai pemimpin pembelajaran dimaknai sebagai sebuah kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Selanjutnya, yang perlu dilakukan guru sebagai pendidik adalah mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya dan mengurangi kontrol kita terhadap mereka. Dengan kata lain kita menuntun anak dalam konteks ini agar setiap individu memiliki "agency." Juga dimaknai bahwa, sebagai agency siswa memiliki kapasitas untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan yang dibuatnya. Siswa memiliki tanggung jawab terhadap apa yang menjadi pilihan mereka terhadap proses capaian kompetensi yang sudah ditargetkan.
Students agency, secara spesifik, sebagai konsep kepemimpinan murid dapat digambarkan bahwa kepemimpinan murid melingkupi beberapa aspek komponen sebagai indikator keterlaksanaan kepemimpinan murid itu sendiri, student agency, sebagai berikut: kepemimpinan murid adalah konteks spesifik pada diri murid yang dapat didorong untuk terus berkembang dalam konteks aset-based thinking, ada kepemilikan dan tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri, murid memiliki suara terhadap apa yang akan mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, dan mengorganisir pembelajaran, dan akhirnya murid dapat menentukan arah cara pencapaian kompetensi pembelajaran sendiri tentu sesuai dengan indikator capaian kompetensi berdasar kompetensi dasar yang dipelajari.
Kepemimpinan murid pada akhirnya adalah sebuah upaya sadar dan akademis yang wajib dilakukan oleh guru sekaligus pendidik dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid dengan menyediakan kesempatan murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pelajar pancasila yang tidak hanya menjadi pribadi yang merdeka, namun juga menjadi pribadi yang memerdekakan bangsanya. Artinya, proses pembelajaran diruang-ruang kelas ditangan para pendidik, mereka, siswa, dituntun agar memiliki tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri, guru memberi kesempatan murid memiliki suara terhadap apa yang akan mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, dan mengorganisir pembelajaran, dan akhirnya murid dapat menentukan arah cara pencapaian kompetensi pembelajaran sendiri tentu sesuai dengan indikator capaian kompetensi berdasar kompetensi dasar yang dipelajari. Dengan konteks ini, guru menuntun anak agar kreatif, berpikir kritis, mandiri, mampu bergotong royong, berkebinasaan global, dan beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia terealisasi dalam ekosistem satuan pendidikan.
Pada akhirnya, kepemimpinan murid mencakup tiga konsep utama, yakni: Suara Murid (voice), Pilihan Murid (Choice), dan Kepemilikan Murid (ownership). Sebagaimana diungkapkan bahwa dalam perspektif pedagogis kepemimpinan siswa dimaknai sebagai suara (voice) dan pilihan (choice) dimana siswa membangun pilihan secara autentik dimana siswa melihat pilihan tersebut sebagai milik mereka sehingga tindakan mereka berdampak nyata pada diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka (Williams, 2017). Selanjutnya, suara murid tidak hanya sebatas memberi kesempatan atau mendorong murid untuk berpendapat atau memiliki ide. Namun, suara murid adalah sebuah kolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. Berikutnya, pilihan murid dimaknai sebagai sebuah proses anak-anak mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka agar anak-anak memperoleh pengalaman dalam proses pembelajaran dan penilaian. Akhirnya, kepemilikan murid dimaknai sebagai sebuah kondisi dimana murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.
