Artikel

Guru Kasmaran Belajar

Menghubungkan asumsi di atas dengan tugas keprofesian guru dan pelaksanaan pembelajaran yang saat ini memasuki semester genap, penulis mencoba menginterpretasikan dari dua tinjauan perspektif. Pertama, tak dipungkiri lagi bahwa belajar sejatinya merupakan kebutuhan bagi setiap insan pembelajar (termasuk guru) yang tak boleh berhenti dilakukan.  Membangun budaya belajar berawal dari kesadaran diri untuk mengembangkan kapasitas diri.

Kesadaran untuk terus belajar, bergerak, dan merespon diri menjawab tantangan mutlak diperlukan pada segenap aspek kehidupan, termasuk pula pada bidang pendidikan. Mengapa begitu? sebab meletakkan komitmen menjadi guru berarti kesediaan untuk terus belajar termasuk mulai membiasakan berselancar lebih mendalam memasuki dunia digital pada kondisi saat ini.

Apabila sebelumnya guru menggunakan teknologi sebatas bersosialisasi melalui media sosial atau mencari informasi tertentu melalui internet, tetapi saat ini dunia digital benar-benar menjadi media pembelajaran pokok. Oleh karena itu inisiatif memperbaiki kapasitas digital menjadi keharusan dan tuntutan yang mesti dilakukan oleh guru saat ini bahkan di masa mendatang.  Guru harus berani keluar dari zona nyaman dan untuk itu literasi digital menjadi modal terbaik bagi guru.

Khoiruddin Bashori (Media Indonesia, 30/11/2020) mengemukakan literasi digital sebagai kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi, yang membutuhkan keterampilan kognitif dan teknis. Lebih lanjut Bashori mengemukakan dalam konteks literasi digital setiap guru memerlukan kemampuan untuk dapat mengakses, menganalis, mencipta, melakukan refleksi, dan bertindak menggunakan aneka ragam perangkat digital, sebagai bentuk ekspresi dan strategi dalam berkomunikasi dengan  peserta didik.

Dengan literasi digital, guru dapat mengimplementasikan hal-hal baru yang dianggap cocok dan relevan untuk dipelajari oleh peserta didik sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir mereka. Dalam hal ini teknologi menjadi penunjang bagi guru untuk mendesain pembelajaran variatif, efektif, dan menarik.

Aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru pada masa pandemi antara lain memperbanyak referensi bacaan, mengikuti forum diskusi atau pelatihan pembelajaran melalui media virtual, berkolaborasi dengan teman sejawat yang berkompeten dan terbiasa akrab dengan teknologi, mengakses platform media belajar yang difasilitasi oleh pemerintah atau melalui sekolah/forum belajar guru (KKG/MGMP) mengundang pakar pendidikan untuk memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran kontekstual sesuai tuntutan perubahan zaman. Intinya dikaitkan dengan perspektif pertama, guru harus membangun budaya belajar dan produktif belajar.

Sedangkan perspektif kedua, yang dilihat dari asumsi dengan redaksi kalimat “tidak memonopoli pengetahuan”. Mengapa bukan monopoli pengetahuan menjadi satu-satunya poin penting? Sebab apabila pembelajaran hanya memfokuskan pada ranah memperoleh pengetahuan, sesungguhnya kecanggihan teknologi menyediakan segala macam pengetahuan itu. Bahkan layanan mesin google mampu menyediakan arsip karakteristik jawaban pengetahuan yang diinginkan.

Dengan begitu, menjadi jelas bahwa kompetensi pengetahuan bukan satu-satunya kompetensi yang dibutuhkan saat ini maupun masa mendatang, melainkan didukung pula dengan kompetensi sikap dan kompetensi keterampilan yang semestinya terintegrasi dengan baik.

Untuk itu guru dapat mendesain pembelajaran yang memberdayakan potensi peserta didik. Pelibatan (pemberdayaan) peserta didik dalam pembelajaran merupakan pendekatan paling tepat dilakukan apalagi mereka merupakan generasi net yang terbiasa bernavigasi di dunia yang kaya teknologi.

Peserta didik dapat diajak untuk merefeksikan nilai-nilai kemanusiaan pada materi pembelajaran sekaligus menggugah mereka untuk memahami dan memaknai apa yang telah diperoleh baik untuk diri sendiri maupun pada orang lain. Misal, penulis sebagai guru PPKn pada materi relevan dapat melibatkan peserta didik dalam pembelajaran yakni mengintegrasikan materi pembelajaran dengan isu kewarganegaraan yang kontekstual. Aktivitas yang dimaksud tentu dapat pula diimplementasikan pada mata pelajaran lain.

Misal dalam pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, peserta didik diberikan kesempatan mengaktualisasikan perilaku menjaga kebersihan untuk mencegah penularan virus atau berbagi antar sesama di masa pandemi. Pada pelajaran sejarah, anak diminta menemukan dan mendeskripsikan nilai kemanusiaan (pesan moral) dari peristiwa bernama Covid-19.

Atau dalam pelajaran matematika, peserta didik menjadikan angka sebagai data statistik keprihatinan di masyarakat atas tingginya kasus Covid-19 dan melakukan analisis apa yang semestinya dilakukan oleh masyarakat, pemerintah, termasuk mereka sebagai pelajar. Dengan begitu matematika tak mesti terjebak pada hitungan angka-angka. Demikian pula pada pelajaran ekonomi, data statistik dijadikan rujukan untuk menganalisis upaya yang tepat dalam mengatasi tingginya angka pengangguran.

Mengapa perlu dilakukan? agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan tak dangkal sebatas buku teks (materi ajar). Dengan kata lain tidak terjebak pada materialisme kurikulum.

Mari menyimak dengan seksama Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020. Pada frasa “memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas ataupun kelulusan”, seharusnya menjadi acuan bagi guru untuk tidak semata-mata mengisi kepala peserta didik dengan sejuta pengetahuan, namun kering pengalaman belajar yang bermakna.

Oleh karena itu guru dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bereksplorasi dan berkreasi menuangkan gagasan pemikirannya melalui pengalaman belajar bermakna.

Dengan pemberdayaan peserta didik, selain menjadi pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, kita juga sedang membuka pintu bagi terbentuknya generasi kreatif yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain melalui pengalaman belajar bermakna yang berorientasi pada penanaman nilai karakter. Mari membangun budaya kasmaran belajar mengembangkan kapasitas diri.

Penulis: 
Derry Nodyanto
Sumber: 
Dok
Tags: 
Bangsa pemenang tidak diisi oleh orang-orang yang memonopoli pengetahuan | tetapi diisi oleh orang-orang yang kasmaran belajar” (Sumardianta dan Sarasvati).