Oleh : Rio Kurniawan, S.Pd, M.Pd.
Merdeka belajar adalah metode pengajaran yang memungkinkan siswa bereksperimen sesuai dengan minat dan kemampuannya. Mengajar bukan hanya sekadar memberikan penjelasan. Mengajar adalah ilmu sekaligus seni. Memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengekspresikan diri, menumbuhkan kreativitas, dan memilih pelajaran berdasarkan minatnya adalah belajar mandiri. Belajar melalui cara mandiri harus menumbuhkan lingkungan yang positif. Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh anak lainnya. Agar proses belajar anak benar-benar atas kesadarannya sendiri dan mandiri atas pilihannya, maka pendidik harus mampu bertransformasi menjadi mitra belajar yang menyenangkan pada saat ini. Memfasilitasi membutuhkan waktu dan kesabaran yang cukup agar anak dapat mengenali potensinya.
Merdeka belajar bertujuan untuk membuat belajar menyenangkan bagi orang tua, guru, dan siswa. Proses pendidikan belajar mandiri harus menumbuhkan lingkungan yang menyenangkan. Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh anak lainnya. Untuk menghasilkan siswa yang kreatif dan inovatif, pendidik harus mampu bertransformasi menjadi mitra belajar yang menyenangkan pada saat ini. Hal ini akan memastikan bahwa proses belajar anak benar-benar mandiri dari pilihannya dan berdasarkan kesadarannya sendiri. Siswa akan termotivasi untuk belajar lebih banyak tentang dunia dan segala isinya jika mereka terlibat dalam pembelajaran yang menarik. Pertanyaan dan konsep akan muncul dari keinginan untuk belajar lebih banyak tentang dunia. Jika pertanyaan dan konsep ini dapat didemonstrasikan, mereka akan berkembang menjadi ilmu pengetahuan, memastikan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang. Neokorteks—bagian otak yang berpikir—akan diaktifkan dalam suasana yang menyenangkan, aman, dan nyaman, yang akan meningkatkan proses belajar mengajar dan meningkatkan rasa percaya diri anak. Fungsi otak anak akan menderita akibat lingkungan kelas yang kaku dan membebani serta guru yang tidak menyenangkan, dan anak tidak akan mampu berpikir secara efektif, bereaksi dengan tepat, atau menjadi agresif. karena keterampilan anak bisa berkembang ketika mereka sudah memiliki minat dan mau berlatih. Pendidik juga harus mampu mendengarkan dengan baik untuk memulai proses pembelajaran. tidak hanya memberikan pengetahuan kepada anak-anak dan mendikte perilaku mereka kepada guru.
Mengajar lebih dari sekadar memberikan penjelasan. Mengajar adalah ilmu sekaligus seni. Siswa akan termotivasi untuk belajar tentang dunia dan senang dengan pembelajaran yang menyenangkan. Jika bisa didemonstrasikan, keinginan untuk belajar lebih banyak tentang dunia akan mengarah pada konsep yang menjadi sains, yang memungkinkan kebenaran akhirnya diterima. Secara alami, akan lebih menyenangkan bagi guru dan siswa untuk mengajar dengan cara yang terasa alami. Siswa akan belajar lebih mudah jika mereka dapat berbicara dengan guru mereka dan belajar di luar kelas daripada hanya mendengarkan guru menjelaskan sesuatu. Namun, lebih kepada menumbuhkan kepribadian siswa yang berani, mandiri, cerdas sosial, santun, dan kompeten, bukan hanya mengandalkan sistem peringkat, yang menurut beberapa survei, hanya menyangkut orang tua dan anak karena setiap anak memiliki bakat dan bakat yang berbeda. intelijen. Siswa yang berkompeten, berbudi luhur, dan siap kerja akan dikembangkan nantinya. Bagian berpikir otak akan diaktifkan, proses belajar mengajar akan ditingkatkan, dan rasa percaya diri anak akan tumbuh. Fungsi otak anak akan berkurang akibat lingkungan kelas yang kaku, memberatkan, guru yang tidak menyenangkan, dan pemikiran yang tidak efektif, reaktif, atau agresif.
Strategi pembelajaran yang membebaskan menekankan pada penggunaan pengetahuan dengan cara yang bermakna, dan proses pembelajaran lebih terfokus pada mendengarkan pemikiran atau pertanyaan siswa. Keterampilan berpikir kritis, analisis, perbandingan, generalisasi, prediksi, dan perumusan hipotesis lebih ditekankan dalam kegiatan pembelajaran. Berbagai keluhan terkait sistem pendidikan berujung pada pengembangan program belajar mandiri. Keluhan tentang banyaknya siswa yang berpedoman pada nilai-nilai tertentu adalah salah satunya. Kebebasan berpikir adalah kebebasan belajar, dan guru pertama-tama harus mempraktikkan esensi kebebasan berpikir. Siswa tidak akan dapat mengambil manfaat darinya jika guru tidak mempraktikkannya. Akan ada banyak persimpangan ketika kita percaya pada guru dan kemandirian belajar. Kemandirian selama proses pembelajaran adalah salah satunya. Secara alami, kemandirian adalah diperlukan untuk belajar.karena mata pelajaran yang melakukan proses pembelajaran—siswa atau guru—harus diberi kemandirian.Ketaatan atau perlawanan bukan satu-satunya aspek kemandirian.Kemerdekaan itu diperjuangkan bukan diberikan.
Perkembangan guru sangat bergantung pada kemandiriannya. Kompetensi seorang guru tidak akan setinggi-tingginya jika tidak diberi kebebasan atau kebebasan berpikir, seperti burung yang takut meninggalkan sarangnya. Sebab, anak hanya bisa dibebaskan oleh guru yang mandiri, anak hanya bisa digelitik oleh guru yang semangat, dan hanya guru yang terus belajar yang layak mengajar. Keyakinan guru memainkan peran penting dalam apakah dia mampu memberdayakan pembelajaran dan mencapai kemandirian. Guru yang memiliki otonomi sering disalahpahami sebagai lawan kebijakan atau aturan dalam situasi seperti ini. Karena kemandirian selalu dikaitkan dengan inisiatif, definisi ini kurang tepat. Untuk mencapai tujuan mereka, guru harus mandiri daripada "independen" dari kebijakan.
Dalam pembelajaran yang membebaskan, penggunaan evaluasi menempatkan penekanan pada proses aktif pembuatan makna melalui penggunaan masalah dunia nyata. Evaluasi melihat bagaimana pemikiran divergen muncul, bagaimana menyelesaikan banyak masalah, atau apakah hanya ada satu jawaban yang benar karena pada kenyataannya hanya ada pertanyaan guru yang salah, bukan jawaban siswa yang salah. Dengan menetapkan tugas yang menuntut kegiatan pembelajaran yang bermakna dan mempraktekkan apa yang dipelajari dalam situasi dunia nyata, evaluasi menempatkan penekanan lebih besar pada keterampilan proses dalam kelompok. Pendidikan yang berkualitas akan mencerminkan masyarakat yang maju, damai, dan bermuara pada sifat-sifat konstruktif. Pendidikan merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan bagi semua orang. Kehidupan bangsa juga digerakkan oleh pendidikan.
