Berita

Menjadi Pembina Upacara Ini Point Penting yang Disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Babel

PANGKALPINANG—Elaborasi antara orang tua dan sekolah menjadi hal penting dalam pembentukan karakter anak atau peserta didik. Tanggung jawab terhadap karakter anak seharusnya tidak hanya diserahkan kepada sekolah, namun juga  menjadi perhatian dan tanggung jawab orang tua.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ervawi, saat menjadi Pembina Upacara pada upacara mingguan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di halaman Kantor Gubernur Air Itam, Senin 4 November 2023.

Di hadapan peserta upacara Ervawi menjelaskan tentang Kurikulum Merdeka yang saat ini menjadi acuan kurikulum di satuan pendidikan. Kurikulum Merdeka katanya memberikan ruang seluas-luasnya kepada setiap peserta didik untuk tumbuh berkembang sesuai potensi yang ada pada siswa. Dan dalam Kurikulum Merdeka lanjutnya, ada dua pendekatan yang digunakan, yaitu pengembangan potensi peserta didik dan pengembangan karakter peserta didik.

“Banyak potensi yang ada dalam peserta didik, untuk itu hadirnya Kurikulum Merdeka yang menjadi acuan pembelajaran pada satuan pendidikan diharapkan potensi yang ada pada peserta didik semakin berkembang dan bisa memberikan manfaat besar pada diri siswa,” jelasnya.

Lebih lanjut Ervawi menjelaskan, dalam Kurikulum Merdeka pengembangan potensi peserta didik dalam hal penjurusan, sekolah dalam hal ini guru Bimbingan dan Konseling akan memetakan potensi peserta didik terkait dengan pemilihan penjurusan siswa pada kelas 11.

“Jadi dalam kesempatan ini perlu saya sampaikan bahwa bagi bapak ibu peserta upacara yang memiliki anak di sekolah menengah atas bahwa penjurusan itu baru dilakukan di kelas 11. Pemilihan jurusan berdasarkan minat, bakat dan kemampuan akademis sesuai jurusan kuliah yang diminati. Saat masih di kelas X siswa diminta mengisi mata pelajaran apa yang diminati dan program studi yang nanti akan dipilih. Tentu saja setelah berkonsultasi dengan guru BK atau Bimbingan dan Konseling. Dari data inilah nantinya siswa dikelompokkan dalam kelas dengan siswa yang memiliki minat yang sama,” paparnya.

Ditambahkan Ervawi, pendekatan kedua yang ada dalam Kurikulum Merdeka adalah pengembangan karakter peserta didik.  Dalam Kurikulum Merdeka, pendidikan karakter dikembangkan dan dikuatkan menjadi enam nilai karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yang menjadi referensi acuan dari upaya tujuan pendidikan nasional dalam rangka membangun karakter serta kompetensi peserta didik.

“Adapun enam dimensi Profil Pancasila itu adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Mah Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Untuk mewujudkan enam dimensi Profil Pancasila itu tentu harus ada dukungan yang besar dari orangtua. Artinya perlu elaborasi antara orang tua dan sekolah menjadi hal penting dalam pembentukan karakter anak atau peserta didik. Tanggung jawab terhadap karakter anak tidak hanya diserahkan kepada sekolah, namun juga  menjadi perhatian orang tua,” tegas Ervawi.

Dalam kesempatan itu juga Ervawi menyampaikan bahwa saat ini di dua tahun sebelumnya tidak ada evaluasi tahunan berupa ujian nasional. “Perlu kami sampaikan dan untuk diketahui bahwa tidak ada lagi ujian nasional. Yang ada saat ini adalah Asesmen Nasional yang mengukur kemampuan literasi, kemampuann numerasi dan diikuti juga dengan survei karakter dan lingkungan belajar. Itu bukan untuk mengevaluasi personal siswa secara khusus, namun untuk mengukur atau mengevaluasi sekolah secara umum,” ujarnya.

Sumber: 
BTIKP
Penulis: 
Mamaqdudah
Fotografer: 
Ferdinan
Editor: 
Sukinda
Bidang Informasi: 
Pendidikan